









Apakah mobil hybrid perlu dicharge? Pelajari fakta penting, cara pengisian daya yang tepat, dan tips merawat baterai agar tahan lama.
Ekosistem EV
5 menit membaca
0
Bagikan:
Seiring meningkatnya popularitas kendaraan elektrifikasi di Indonesia, banyak calon pengguna masih bertanya-tanya apakah mobil hybrid perlu dicharge.
Mobil hybrid sendiri hadir sebagai solusi transisi yang efisien, karena mampu memadukan performa mesin bensin dengan keheningan motor listrik tanpa mengubah kebiasaan berkendara secara drastis.
Lalu, bagaimana sebenarnya mekanisme pengisian daya pada kendaraan ini? Simak penjelasan lengkap mengenai sistem pengisian daya mobil hybrid dan tips perawatannya.
BACA JUGA: Cara Kerja Mobil Hybrid dan Efisiensi Bahan Bakarnya!
Sebelum menjawab pertanyaan apakah mobil hybrid perlu dicharge, ada baiknya kita memahami dulu pengertian jenis mobil ini.
Mobil hybrid adalah kendaraan yang memadukan mesin konvensional dan motor listrik untuk menggerakkan mobil. Kombinasi ini membuat mobil lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar, mengurangi emisi, dan tetap memberikan performa yang optimal.
Saat berkendara, mobil bisa menggunakan tenaga listrik untuk kecepatan rendah, sedangkan mesin konvensional bekerja saat dibutuhkan tenaga lebih besar, sehingga membuat perjalanan lebih hemat dan ramah lingkungan.
Lalu, sebenarnya apakah mobil hybrid perlu dicharge? Jawabannya tergantung pada jenis mobil hybrid yang digunakan. Setiap tipe memiliki mekanisme pengisian daya yang berbeda, sehingga cara perawatan dan kebutuhan charging-nya pun tidak sama.
Mobil jenis ini sama sekali tidak memerlukan pengisian daya manual lewat colokan listrik. Sistem pengisian baterainya bersifat mandiri atau self-charging. Daya listrik dihasilkan melalui dua cara, yaitu:
Jenis ini merupakan perpaduan antara mobil hybrid konvensional dan mobil listrik murni. Berbeda dengan HEV, PHEV memiliki kapasitas baterai yang jauh lebih besar sehingga perlu dan bisa dicharge menggunakan sumber listrik eksternal.
Dengan baterai yang penuh, mobil dapat melaju dalam mode listrik untuk jarak yang cukup jauh. Namun, jika daya baterai habis di tengah perjalanan, sistem mobil akan secara otomatis beralih ke mode hybrid biasa menggunakan mesin bensin.
Mirip dengan sistem HEV, mobil Mild Hybrid tidak perlu dicharge manual. Pada mobil ini, motor listrik tidak bisa menggerakkan mobil secara mandiri, melainkan berfungsi untuk membantu akselerasi dan mengurangi beban kerja mesin bensin.
Pada jenis mobil ini, baterainya diisi ulang secara otomatis, sehingga pengendara tidak perlu khawatir tentang pengisian daya eksternal, namun tetap bisa merasakan akselerasi lebih halus dan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat.
Kini saatnya mengulik beberapa tips perawatan agar mesin dan baterai mobil hybrid tetap awet dan performanya optimal. Berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan.
Karena mesin hybrid sering mati-nyala otomatis, penggunaan oli yang tepat sesuai spesifikasi pabrikan sangat penting untuk mencegah keausan pada komponen internal.
Oleh karena itu, pastikan untuk rutin memeriksa dan mengganti oli sesuai jadwal servis. Perawatan sederhana ini akan membantu menjaga performa mesin tetap optimal dan umur mobil hybrid lebih panjang.
Baterai mobil hybrid harus memiliki suhu optimal agar bisa bekerja efisien. Kamu perlu memastikan cairan pendingin khusus pada sistem hybrid diganti secara rutin setiap 40.000 km.
Selain itu, bersihkan ventilasi udara di area kabin dari tumpukan debu. Jika sirkulasi udara ini tersumbat, suhu baterai bisa melonjak drastis dan hal ini berisiko memperpendek umur pakai baterai mobil hybrid kamu.
Bagi kamu yang menggunakan jenis Plug-in Hybrid (PHEV), usahakan untuk tidak membiarkan baterai dalam kondisi kosong total atau terisi penuh 100% dalam waktu yang sangat lama saat mobil diparkir.
Untuk mencegah penurunan performa, biasakan mengemudi secara rutin agar sistem pengisian dan pemakaian baterai tetap seimbang.
Meski seluruh komponen elektrikal dirancang kedap air, kamu tetap harus bijak saat berkendara di musim hujan. Hindari menerjang banjir yang tingginya mencapai area komponen baterai atau kabel tegangan tinggi.
Selain itu, saat mencuci mobil, pastikan tidak menyemprotkan air bertekanan tinggi langsung ke soket atau komponen kelistrikan di dalam kap mesin.
Berbeda dengan mobil biasa, mobil hybrid menggunakan regenerative braking untuk mengisi daya. Hal ini membuat kampas rem fisik biasanya lebih awet karena motor listrik membantu proses pengereman.
Namun, kamu tetap perlu melakukan pemeriksaan rutin di bengkel resmi untuk memastikan sistem sensor pengereman dan konversi energi tetap sinkron dan berfungsi akurat.
BACA JUGA: Klasifikasi Jenis Mobil Hybrid dalam Industri Otomotif
Nah, sekarang kamu sudah tahu kan apakah mobil hybrid perlu dicharge. Dengan teknologi ini, kamu tetap bisa menikmati mobilitas yang nyaman tanpa harus sering memikirkan stasiun pengisian daya, sekaligus ikut berperan dalam mengurangi emisi gas buang.
Sebagai pelopor inovasi otomotif di tanah air, Astra terus berkomitmen menghadirkan pilihan kendaraan ramah lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia yang dinamis.
Hingga kini, Astra telah menghadirkan 22 model kendaraan listrik (xEV), termasuk Battery Electric Vehicle (BEV) dan Hybrid Electric Vehicle (HEV).
Ingin mengeksplorasi lebih jauh mengenai langkah nyata Astra dalam mendukung mobilitas masa depan dan efisiensi energi? Kamu dapat melihat informasi selengkapnya melalui Astra Sustainability Report.