Astra
AstraSATU Indonesia
30 Juli 2026 PT ASTRA INTERNATIONAL TBK ("Perseroan" atau "Astra") Laporan Keuangan Semester I Tahun 2026catur-dharma

30 Juli 2026 PT ASTRA INTERNATIONAL TBK ("Perseroan" atau "Astra") Laporan Keuangan Semester I Tahun 2026

11 menit membaca

0

Bagikan:

30 Juli 2026
PT ASTRA INTERNATIONAL TBK ("Perseroan" atau "Astra")
Laporan Keuangan Semester I Tahun 2026

 

Ikhtisar

  • Otomotif dan Jasa Keuangan membukukan pertumbuhan laba bersih masing-masing sebesar 9% dan 6%, sementara kinerja dari Solusi Pertambangan dan Alat Berat lebih rendah
  • Mereposisi strategi Grup untuk fokus pada tiga Core Businesses
  • Mengumumkan program pembelian kembali saham (share buyback) baru dengan nilai hingga Rp8 triliun di Astra dan Rp2 triliun di United Tractors ("UT")
  • Menjalankan management share ownership program ("MSOP") jangka panjang
  • Laba bersih per saham tanpa memperhitungkan non-recurring items lebih rendah 6% menjadi Rp372 (lebih rendah 18% dengan memperhitungkan non-recurring items)

"Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan.

Pada Mei 2026, kami mengumumkan strategi korporasi baru yang bertujuan untuk memberikan imbal hasil pemegang saham yang stabil dan berkelanjutan. Strategi tersebut mencakup fokus pada tiga Core Businesses Grup, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan dan Solusi Pertambangan & Alat Berat; kerangka alokasi modal yang lebih disiplin, termasuk dividen dan share buyback; serta komitmen untuk bertransformasi melalui penyelarasan kepemimpinan.

Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan. Sebelumnya, sejak November 2025, Astra dan UT telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp7,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Selain itu, Astra juga telah menjalankan penyelarasan insentif manajemen melalui program MSOP.

Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis. Kami akan senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus memposisikan Grup untuk dapat memberikan peningkatan total imbal hasil bagi para pemegang saham serta mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan."

Rudy
Presiden Direktur

 

Kinerja Keuangan Konsolidasi grup Astra ("Grup")

  Untuk periode yang berakhir 30 Juni
2026
Rp miliar
2025
Rp miliar
Perubahan
%
Pendapatan bersih 157.913 162.857 (3)
Laba bersih tidak termasuk non-recurring items* 14.892 16.041 (7)
Non-recurring items* (2.359) (526) N/A
Laba bersih 12.533 15.515 (19)
  Rp Rp  
Laba bersih per saham tidak termasuk non-recurring items* 372 396 (6)
Laba bersih per saham 313 383 (18)
  30 Juni 2026
Rp miliar
31 Desember 2025
Rp miliar
Perubahan
%
Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk 230.068 228.906 1
  Rp Rp  
Nilai aset bersih per saham 5.763 5.692 1

* Non-recurring items, terutama terdiri atas penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment)
Catatan: Grup menggunakan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebagai laba bersih

Kinerja keuangan selama semester pertama yang berakhir pada 30 Juni 2026 dan 2025 serta posisi keuangan per 30 Juni 2026 tidak diaudit dan telah disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

LAPORAN PRESIDEN DIREKTUR

Kinerja
Pendapatan bersih konsolidasian Grup pada semester pertama tahun 2026 tercatat sebesar Rp157,9 triliun, 3% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih, tidak termasuk non-recurring items, lebih rendah 7% sebesar Rp14,9 triliun. Meskipun hampir seluruh bisnis mencatatkan kinerja yang baik, kinerja Grup secara keseluruhan terdampak oleh kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat yang lebih rendah, mencerminkan minimnya kontribusi dari divisi pertambangan emas, penurunan penjualan alat berat, serta penurunan volume pada divisi jasa penambangan dan pertambangan batu bara.

Perseroan mencatat non-recurring items sebesar Rp2,4 triliun, yang terutama terdiri atas penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment). Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih Grup tercatat sebesar Rp12,5 triliun, turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Nilai aset bersih per saham pada 30 Juni 2026 naik sebesar 1% menjadi Rp5.763.

Utang bersih pada 30 Juni 2026, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp6,0 triliun, dibandingkan dengan kas bersih Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, share buyback, dan pergerakan modal kerja. Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp67,0 triliun pada 30 Juni 2026, meningkat dibandingkan Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025.

Strategy Roadmap
Pada Mei 2026, Astra mengumumkan Strategy Roadmap baru yang mencerminkan perubahan mendasar dalam mindset perusahaan untuk menghasilkan total imbal hasil pemegang saham yang berkelanjutan. Strategi ini dibangun di atas empat pilar utama: Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment.

  • Focus: Fokus pada tiga Core Businesses, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan & Alat Berat.
  • Clarity: Kerangka yang lebih jelas untuk mengelola Wider Businesses, menekankan bisnis yang bersinergi dengan ekosistem dan kapabilitas Astra.
  • Discipline: Memperjelas kriteria alokasi modal dan investasi, dengan mempertimbangkan imbal hasil bagi pemegang saham.
  • Commitment: Komitmen menjalankan transformasi ini melalui penyelarasan kepemimpinan dengan kepentingan para pemegang saham dan pemangku kepentingan.

Kegiatan Bisnis
Untuk mencerminkan strategi korporasi yang baru, Astra menerapkan struktur pelaporan yang telah diperbarui dengan berfokus pada tiga Core Businesses sejak semester pertama 2026, dimana seluruh bisnis di luar Core Businesses dilaporkan dalam segmen Lain-lain.

Laba bersih Grup berdasarkan bisnis pada semester pertama tahun 2026, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dimuat dalam tabel di bawah:

  Laba Bersih Berdasarkan Bisnis
Untuk periode yang berakhir 30 Juni
2026
Rp miliar
2025
Rp miliar
Perubahan
%
Otomotif 5.914 5.404 9
Jasa Keuangan 4.646 4.374 6
Solusi Pertambangan & Alat Berat 2.704 5.022 (46)
Lain-lain 1.628 1.241 31
Laba bersih tidak termasuk non-recurring items* 14.892 16.041 (7)
Non-recurring items* (2.359) (526) N/A
Laba bersih 12.533 15.515 (19)

* Non-recurring items, terutama terdiri atas penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment)

Catatan:

  • Grup menggunakan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebagai laba bersih
  • Mulai periode ini, investasi di bidang layanan kesehatan dan non-otomotif lainnya, serta penyesuaian nilai wajar yang sebelumnya disajikan dalam divisi Otomotif, telah direklasifikasi dari Otomotif ke Lain-lain.

Otomotif
Laba bersih bisnis Otomotif Grup meningkat sebesar 9% menjadi Rp5,9 triliun, dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didukung oleh pertumbuhan penjualan mobil baru dan kontribusi yang kuat dari divisi Komponen.

  • Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 1% menjadi 3,1 juta unit pada semester pertama tahun 2026. Penjualan sepeda motor Honda juga meningkat sebesar 1%, dengan pangsa pasar sebesar 77%.
  • Penjualan mobil secara nasional meningkat 16% menjadi 437.000 unit pada semester pertama tahun 2026, sementara penjualan Grup meningkat sebesar 10%. Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar sebagai merek mobil terlaris pertama dan kedua di Indonesia, dengan pangsa pasar Grup sebesar 51%.
  • Kontribusi laba bersih divisi Komponen Grup meningkat sebesar 23% menjadi Rp921 miliar pada semester pertama tahun 2026, dengan peningkatan kontribusi dari semua segmen.
  • Divisi Mobilitas Grup mencatat kenaikan penjualan mobil bekas sebesar 4% menjadi 15.700 unit dan peningkatan jumlah kendaraan dalam kontrak sebesar 13% menjadi 29.200 unit.

Jasa Keuangan
Bisnis Jasa Keuangan Grup terus menunjukkan pertumbuhan yang resilien, dengan laba bersih yang meningkat 6% menjadi Rp4,6 triliun.

  • Nilai pembiayaan baru divisi pembiayaan konsumen Grup meningkat 10% menjadi Rp61,8 triliun, didorong oleh pertumbuhan pembiayaan otomotif dan multi-cycle. Divisi pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor mencatat kontribusi laba bersih sebesar Rp2,4 triliun, meningkat 4% dibandingkan tahun lalu. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan mobil meningkat 6% menjadi Rp1,2 triliun.
  • Nilai pembiayaan baru yang disalurkan oleh divisi pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan alat berat meningkat sebesar 1% menjadi Rp8,1 triliun. Kontribusi laba bersih dari divisi ini meningkat 11% menjadi Rp130 miliar.
  • Perusahaan-perusahaan asuransi Grup membukukan peningkatan kontribusi laba bersih sebesar 7% menjadi Rp906 miliar, didukung oleh peningkatan pendapatan operasional dan pendapatan investasi.

Solusi Pertambangan & Alat Berat
Bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat Grup membukukan laba bersih (tanpa memperhitungkan non-recurring items) sebesar Rp2,7 triliun, turun 46% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut disebabkan oleh minimnya penjualan emas dari tambang emas Martabe, serta dampak dari penurunan kuota produksi batu bara nasional (alokasi RKAB), yang mengakibatkan melemahnya permintaan pada divisi alat berat dan jasa penambangan, serta penurunan volume pada divisi pertambangan batu bara.

Selama semester pertama tahun 2026, bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat membukukan non-recurring items sebesar Rp2,1 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih yang dilaporkan turun 88% menjadi Rp607 miliar.

  • Divisi penyedia jasa penambangan mencatatkan pengupasan lapisan tanah yang lebih rendah 10% menjadi 481 juta bank cubic metres.
  • Penjualan alat berat Komatsu turun 27% menjadi 1.994 unit, terutama disebabkan oleh penurunan penjualan alat berat berukuran besar di sektor pertambangan sebagai dampak dari penurunan alokasi RKAB.
  • Bisnis pertambangan batu bara membukukan penurunan penjualan batu bara milik sendiri sebesar 10% menjadi 6,0 juta ton. Sementara itu, divisi pertambangan emas mencatat penjualan emas yang lebih rendah secara signifikan, yaitu sebesar 23.000 ons, dibandingkan 125.000 ons pada periode yang sama tahun lalu, akibat penghentian sementara operasional tambang emas Martabe pada awal tahun. Tambang tersebut telah beroperasi kembali sejak kuartal kedua.

Lain-lain
Total laba bersih segmen Lain-lain, yang terutama mencerminkan Wider Businesses Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, mencapai Rp1,6 triliun. Laba bersih ini meningkat 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama didorong oleh peningkatan kinerja divisi agribisnis yang didukung oleh kenaikan harga dan volume penjualan minyak kelapa sawit, serta peningkatan kinerja divisi properti yang didukung oleh kontribusi dari industrial warehouse platform yang baru diakuisisi.

Segmen Lain-lain membukukan kerugian penyesuaian nilai wajar non-recurring sebesar Rp259 miliar pada semester pertama tahun 2026, dibandingkan Rp484 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kerugian penyesuaian nilai wajar tersebut terutama mencerminkan fluktuasi nilai pasar (mark-to-market) atas investasi ekuitas Grup.

Aksi Korporasi

  • Sejak November 2025, Astra dan UT telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp7,4 triliun hingga akhir Juni 2026, yang mencerminkan komitmen keduanya untuk meningkatkan total imbal hasil bagi pemegang saham. Astra juga mengumumkan program share buyback baru hingga Rp8 triliun untuk jangka waktu 12 bulan yang dimulai pada bulan Juli. UT turut mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk jangka waktu tiga bulan yang dimulai pada bulan Juli. Langkah-langkah ini menegaskan kembali kerangka alokasi modal yang disiplin serta komitmen kami untuk meningkatkan imbal hasil jangka panjang bagi para pemegang saham.
  • Astra juga telah menjalankan MSOP jangka panjang pada bulan Juli, yang semakin menyelaraskan insentif manajemen dengan penciptaan nilai jangka panjang.

Prospek
Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis. Kami akan senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus memposisikan Grup untuk dapat memberikan peningkatan total imbal hasil bagi para pemegang saham serta mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

 

Rudy
Presiden Direktur
30 Juli 2026

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:
PT Astra International Tbk
Boy Kelana Soebroto, Chief of Corporate Affairs
Tel: +62 - 21 - 5084 3888

 

-selesai-

 

Tentang Astra
Astra adalah salah satu perusahaan publik terbesar di Indonesia, yang terdiri dari 324 anak perusahaan, ventura bersama serta entitas asosiasi, didukung lebih dari 190.000 karyawan. Portofolio bisnis Astra yang terdiversifikasi didukung oleh tiga Core Businesses, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, Solusi Pertambangan & Alat Berat, dan beberapa perusahaan dalam Wider Businesses.

Astra mempunyai kerangka sustainability yang di dalamnya terdapat Astra 2030 Sustainability Aspirations untuk memandu perjalanan transisi Grup Astra dalam menjadi perusahaan yang lebih sustainable pada tahun 2030 dan seterusnya. Astra berkeinginan untuk berkontribusi dalam memperkuat ketahanan perekonomian Indonesia yang mendukung masyarakat yang inklusif dan sejahtera.

Astra memiliki kontribusi sosial berkelanjutan yang berfokus pada pengembangan dan penguatan desa melalui program Desa Sejahtera Astra yang telah mencapai lebih dari 1.500 Desa Sejahtera Astra yang tersebar di 35 provinsi di seluruh Indonesia. Program Desa Sejahtera Astra terdiri dari empat bidang utama yang terdiri dari kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan serta didukung oleh sembilan yayasan yang turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus mendukung masyarakat yang inklusif dan sejahtera.

Selaras dengan program Desa Sejahtera Astra, program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards hadir untuk mengapresiasi pada inovator muda serta Desa Sejahtera Astra dan penggerak desa terbaik binaan Astra. Sejak diluncurkan pada tahun 2010, SATU Indonesia Awards telah mengapresiasi 792 pemuda Indonesia yang aktif berkolaborasi dengan Desa Sejahtera Astra.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.astra.co.id, serta ikuti kegiatan Astra melalui Instagram @satu_indonesia, TikTok @satu_indonesia, YouTube SATU Indonesia, X (Twitter) @satu_indonesia, LinkedIn PT Astra International Tbk, dan Facebook Semangat Astra Terpadu.

Berita Lainnya: