Astra
AstraSATU Indonesia
29 April 2026 PT ASTRA INTERNATIONAL TBK ("Perseroan" atau "Astra") Laporan Keuangan Kuartal I Tahun 2026catur-dharma

29 April 2026 PT ASTRA INTERNATIONAL TBK ("Perseroan" atau "Astra") Laporan Keuangan Kuartal I Tahun 2026

10 menit membaca

0

Bagikan:

29 April 2026
PT ASTRA INTERNATIONAL TBK ("Perseroan" atau "Astra")
Laporan Keuangan Kuartal I Tahun 2026

 

Ikhtisar

  • Laba bersih per saham lebih rendah 15% menjadi Rp146. Tanpa memperhitungkan non-recurring charges, laba bersih per saham lebih rendah 7% menjadi Rp170
  • Kinerja secara keseluruhan terpengaruh oleh penurunan kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim, volume yang lebih rendah di alat berat dan bisnis jasa penambangan, serta beberapa non-recurring charges
  • Peningkatan kinerja pada bisnis-bisnis lainnya
  • Perseroan telah mengumumkan tahap ketiga program pembelian kembali saham (share buyback) hingga Rp2,0 triliun

"Pada kuartal pertama tahun 2026, laba Grup menurun terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi. Namun, bisnis-bisnis lainnya mencatatkan kinerja yang lebih baik, sehingga dapat mengimbangi sebagian dari penurunan tersebut.

Sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan imbal hasil kepada pemegang saham, Astra melanjutkan pelaksanaan program pembelian kembali saham pada kuartal pertama tahun ini, dimana sampai saat ini, total pembelian kembali saham yang telah direalisasikan adalah sebesar Rp2,7 triliun. PT United Tractors Tbk ("UT") juga melanjutkan program pembelian kembali saham mereka pada kuartal pertama tahun ini. Sejak program tersebut dimulai pada bulan November 2025, total pembelian kembali saham mencapai Rp3,0 triliun.

Ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan."

Rudy
Presiden Direktur

 

Kinerja Keuangan Konsolidasi grup Astra ("Grup")

  Untuk periode yang berakhir 31 Maret
2026
Rp miliar
2025
Rp miliar
Perubahan
%
Pendapatan bersih 78.668 83.361 (6)
Laba bersih* 5.850 6.932 (16)
Dikurangi: Non-recurring charges** (964) (462) N/A
Laba bersih tidak termasuk non-recurring charges** 6.814 7.394 (8)
  Rp Rp  
Laba bersih per saham* 146 171 (15)
Laba bersih per saham non-recurring charges** 170 183 (7)
  31 Maret 2026
Rp miliar
31 Desember 2025
Rp miliar
Perubahan
%
Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk 232.765 228.906 2
  Rp Rp  
Nilai aset bersih per saham 5.810 5.692 2

*Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk
**Non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas

Kinerja keuangan selama tiga bulan pertama yang berakhir pada 31 Maret 2026 dan 2025 serta posisi keuangan per 31 Maret 2026 tidak diaudit dan telah disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

LAPORAN PRESIDEN DIREKTUR

Kinerja
Pendapatan bersih konsolidasian Grup pada kuartal pertama tahun 2026 adalah sebesar Rp78,7 triliun, 6% lebih rendah dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2025. Laba bersih Grup mencapai Rp5,9 triliun, 16% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh kinerja yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi, terutama akibat kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim, serta volume yang lebih rendah di bisnis alat berat dan bisnis jasa penambangan. Selain itu, pada periode ini, Grup mencatat beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih Grup turun 8% menjadi Rp6,8 triliun.

Nilai aset bersih per saham pada 31 Maret 2026 naik sebesar 2% menjadi Rp5.810.

Utang bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp1,8 triliun pada 31 Maret 2026, dibandingkan dengan kas bersih Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham. Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp66,0 triliun pada 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025.

Kegiatan Bisnis
Laba bersih Grup berdasarkan divisi bisnis pada kuartal pertama tahun 2026, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dimuat dalam tabel di bawah:

  Laba Bersih Berdasarkan Divisi
Untuk periode yang berakhir 31 Maret
2026
Rp miliar
2025
Rp miliar
Perubahan
%
Otomotif & Mobilitas 2.366 2.271 4
Jasa Keuangan 2.267 2.142 6
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi 408 1.955 (79)
Agribisnis 298 221 35
Infrastruktur 343 260 32
Teknologi Informasi 53 36 47
Properti 115 47 145
Laba bersih* 5.850 6.932 (16)
Dikurangi: Non-recurring charges** (964) (462) N/A
Laba bersih tidak termasuk non-recurring charges** 6.814 7.394 (8)

* Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk
**Non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas

Otomotif & Mobilitas
Laba bersih divisi Otomotif & Mobilitas Grup meningkat 4% menjadi Rp2,4 triliun dari Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu, didukung oleh kinerja bisnis mobilitas dan komponen, meskipun volume penjualan mobil lebih rendah. Selama periode tersebut, divisi ini mencatatkan kerugian nilai wajar atas investasi ekuitas sebesar Rp241 miliar yang terkait dengan GoTo, dibandingkan Rp456 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Tanpa memperhitungkan kerugian nilai wajar, laba bersih divisi ini pada kuartal pertama 2026 sebesar Rp2,6 triliun, lebih rendah 4% dibandingkan kuartal pertama tahun 2025 sebesar Rp2,7 triliun.

  • Penjualan mobil secara nasional meningkat 2% menjadi 209.000 unit pada kuartal pertama tahun 2026. Melemahnya segmen mass market serta peningkatan kompetisi secara umum memengaruhi pangsa pasar Astra, yang menjadi 49%.
  • Penjualan sepeda motor secara nasional menurun 4% menjadi 1,6 juta unit pada kuartal pertama tahun 2026. PT Astra Honda Motor terus mempertahankan pangsa pasarnya yang kuat sebesar 78%.
  • Kontribusi laba bersih bisnis komponen Grup, PT Astra Otoparts Tbk, meningkat sebesar 10% menjadi Rp447 miliar pada kuartal pertama tahun 2026, dengan peningkatan kontribusi dari semua segmen.
  • PT Serasi Autoraya, bisnis solusi transportasi dan logistik Grup, mencatat jumlah unit kontrak meningkat 14% menjadi 28.800 unit.
  • OLXmobbi, bisnis mobil bekas Grup, membukukan penjualan mobil bekas yang meningkat 9% menjadi 8.200 unit.

Jasa Keuangan
Laba bersih divisi Jasa Keuangan Grup meningkat 6% menjadi Rp2,3 triliun, disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.

  • Nilai pembiayaan baru bisnis pembiayaan konsumen Grup meningkat 5% menjadi Rp32,0 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan mobil meningkat 5% menjadi Rp609 miliar. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor, PT Federal International Finance, meningkat 3% menjadi Rp1,2 triliun.
  • Nilai pembiayaan baru yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan Grup yang fokus pada pembiayaan alat berat meningkat sebesar 10% menjadi Rp4,4 triliun. Kontribusi laba bersih dari segmen ini meningkat 16% menjadi Rp64 miliar.
  • PT Asuransi Astra Buana, perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan kontribusi laba bersih sebesar 7% menjadi Rp404 miliar, disebabkan terutama oleh peningkatan hasil usaha dan hasil investasi. Perusahaan asuransi jiwa Grup, PT Asuransi Jiwa Astra, mencatatkan peningkatan kontribusi laba bersih sebesar 47% menjadi Rp44 miliar.

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Laba bersih divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi menurun 79% menjadi Rp408 miliar. Pada periode ini, UT mengakui non-recurring charges sebesar Rp723 miliar pada bisnis nikel dan pembangkit listrik panas bumi. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih divisi ini turun 42% menjadi Rp1,1 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan kinerja terutama disebabkan tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe dan dampak terhadap permintaan pelanggan atas alat berat dan jasa kontraktor pertambangan akibat alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah pada tahun 2026.

  • Penjualan alat berat Komatsu menurun 20% menjadi 1.107 unit, terutama didorong oleh penurunan permintaan dari sektor tambang.
  • Penyedia jasa penambangan, PT Pamapersada Nusantara, mencatatkan pengupasan lapisan tanah yang lebih rendah 7% menjadi 236 juta bank cubic metres.
  • Anak perusahaan UT di bidang pertambangan batu bara melaporkan penjualan batu bara miliknya sebesar 4,0 juta ton (termasuk 0,9 juta ton batu bara metalurgi), meningkat dibandingkan dengan 3,2 juta ton (termasuk 1,1 juta ton batu bara metalurgi) pada kuartal pertama tahun 2025.
  • Bisnis pertambangan emas UT mencatat penjualan emas yang menurun 93% menjadi 4.000 oz, dibandingkan dengan 57.000 oz pada periode yang sama tahun lalu, terutama disebabkan oleh tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe akibat penghentian sementara kegiatan operasionalnya. Pada bulan Maret 2026, Tambang Emas Martabe telah menerima persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk kembali melanjutkan kegiatan operasionalnya.
  • Bisnis pertambangan nikel UT terdiri dari PT Stargate Pasific Resources, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh UT, dan Nickel Industries Limited ("NIC") yang 20,1% sahamnya dimiliki oleh UT. Sehubungan dengan perbedaan waktu rilis kinerja NIC, UT membukukan bagian pendapatan ekuitas NIC untuk periode 3 bulan berdasarkan rilis kinerja NIC kuartal terakhir tahun 2025.

 

Agribisnis
Laba bersih divisi Agribisnis Grup meningkat 35% menjadi Rp298 miliar, terutama didorong oleh peningkatan penjualan minyak kelapa sawit mentah ("CPO") dan produk turunannya sebesar 6% menjadi 457.000 ton, dengan harga CPO yang relatif stabil yaitu Rp14.556/kg.

Infrastruktur
Divisi Infrastruktur Grup mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp343 miliar, disebabkan oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Konsesi jalan tol Grup mencatatkan peningkatan pendapatan harian sebesar 14%.

Teknologi Informasi
Divisi Teknologi Informasi Grup mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 47% menjadi Rp53 miliar, disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi teknologi informasi serta peningkatan marjin usaha.

Properti
Divisi Properti Grup melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 145% menjadi Rp115 miliar, terutama berasal dari aset-aset gudang industri yang baru diakuisisi.

Aksi Korporasi
Pada bulan Maret 2026, Astra mengumumkan tahap ketiga program pembelian kembali saham dengan nilai maksimum sebesar Rp2,0 triliun dengan periode pelaksanaan dari 16 Maret hingga 15 Juni 2026.

Pada bulan April 2026, UT mengumumkan tahap ketiga program pembelian kembali saham dengan nilai maksimum sebesar Rp2,0 triliun dengan periode pelaksanaan dari 1 April hingga 30 Juni 2026.

Kedua program tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Program-program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek Grup dan kemampuannya dalam menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, serta mendukung pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.

 

Prospek Bisnis
Ke depan, kondisi pasar diperkirakan masih akan menantang di tengah ketegangan geopolitik. Kami akan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan tetap fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan.

 

Rudy
Presiden Direktur
29 April 2026

Untuk informasi lebih lanjut, mohon hubungi:
PT Astra International Tbk
Boy Kelana Soebroto, Chief of Corporate Affairs
Tel: +62 - 21 - 5084 3888

 

-selesai-

 

Tentang Astra
Astra adalah salah satu perusahaan publik terbesar di Indonesia, yang terdiri dari 321 anak perusahaan, ventura bersama serta entitas asosiasi, didukung lebih dari 190.000 karyawan. Model bisnis perusahaan yang terdiversifikasi menciptakan sinergi dan peluang di seluruh sektor industri termasuk Otomotif & Mobilitas, Jasa Keuangan, Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi, Agribisnis, Infrastruktur, Teknologi Informasi dan Properti. Astra mempunyai kerangka sustainability yang di dalamnya terdapat Astra 2030 Sustainability Aspirations untuk memandu perjalanan transisi Grup Astra dalam menjadi perusahaan yang lebih sustainable pada tahun 2030 dan seterusnya. Astra berkeinginan untuk berkontribusi dalam memperkuat ketahanan perekonomian Indonesia yang mendukung masyarakat yang inklusif dan sejahtera. 

Astra memiliki rekam jejak kontribusi publik dan sosial yang baik melalui empat pilar, yang terdiri dari kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan serta sembilan yayasan yang turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus mendukung masyarakat yang inklusif dan sejahtera. Dilaksanakan pertama kali pada tahun 2010, program Astra Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards, telah mengapresiasi 792 pemuda Indonesia di tingkat nasional dan provinsi di seluruh Indonesia. Program SATU Indonesia Awards dikolaborasikan dengan berbagai kegiatan komunitas Astra melalui lebih dari 1.500 Desa Sejahtera Astra dan Kampung Berseri Astra di 35 provinsi di seluruh Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.astra.co.id, serta ikuti kegiatan Astra melalui Instagram @satu_indonesia, TikTok @satu_indonesia, YouTube SATU Indonesia, X (Twitter) @satu_indonesia, LinkedIn PT Astra International Tbk, dan Facebook Semangat Astra Terpadu.

Berita Lainnya: