Astra
Laporan Keuangan Semester I Tahun 2019catur-dharma

Laporan Keuangan Semester I Tahun 2019

12 menit membaca

0

Bagikan:

Laporan Keuangan Semester I Tahun 2019

30 Juli 2019

PT ASTRA INTERNATIONAL TBK (Grup Astra atau Perseroan)

Laporan Keuangan Semester I Tahun 2019

Ikhtisar

  • Laba bersih per saham menurun 6% menjadi Rp242
  • Penjualan sepeda motor meningkat 8%, sedangkan penjualan mobil menurun 6%
  • Peningkatan kontribusi laba dari jasa keuangan dan tambang emas yang baru diakuisisi
  • Agribisnis terimbas penurunan harga minyak kelapa sawit

“Kinerja Grup Astra pada semester pertama tahun 2019 dipengaruhi oleh lesunya konsumsi domestik dan tren penurunan harga-harga komoditas, tetapi juga diuntungkan oleh peningkatan kinerja bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi. Prospek hingga akhir tahun ini masih menantang karena kondisi-kondisi tersebut dapat berlanjut.”

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

Kinerja Keuangan Konsolidasi

6 bulan yang berakhir 30 Juni

2019

Rp miliar

2018

Rp miliar

Perubahan

%

Pendapatan Bersih

116.182

112.554

3

Laba bersih*

9.803

10.384

(6)

Rp

Rp

Laba bersih per saham

242

257

(6)

30 Juni 2019

Rp miliar

31 Desember 2018

Rp miliar

Perubahan

%

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk**

139.441

136.947

2

Rp

Rp

Nilai aset bersih per saham**

3.444

3.383

2

* Laba bersih adalah laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yaitu pemegang saham Astra International.

** Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan nilai aset bersih per saham didasarkan pada ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Kinerja keuangan selama enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2019 dan 30 Juni 2018 serta posisi keuangan per 30 Juni 2019 disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan tidak diaudit. Posisi keuangan per 31 Desember 2018 disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan telah diaudit sesuai dengan standar audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

Laporan Presiden Direktur

Tinjauan Kinerja

Laba bersih Grup menurun 6% pada semester pertama 2019, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, hal ini terutama disebabkan penurunan kontribusi dari divisi otomotif dan agribisnis, yang penurunannya lebih besar dari peningkatan kontribusi dari divisi jasa keuangan, infrastruktur dan logistik, serta alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi.

Kinerja

Pendapatan bersih konsolidasian Grup selama periode ini meningkat 3% menjadi Rp116,2 triliun, yang terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi serta divisi jasa keuangan.

Laba bersih Grup mencapai Rp9,8 triliun, menurun 6% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Nilai aset bersih per saham Grup tercatat sebesar Rp3.444 pada 30 Juni 2019, 2% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun 2018.

Utang bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp23,3 triliun pada 30 Juni 2019, dibandingkan dengan utang bersih sebesar Rp13,0 triliun pada akhir tahun 2018, hal ini terutama disebabkan oleh investasi Grup pada jalan tol Surabaya – Mojokerto dan Gojek serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp47,8 triliun pada 30 Juni 2019, relatif stabil dibandingkan dengan utang bersih pada akhir tahun 2018.

Kegiatan Bisnis

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham PT Astra International Tbk dari masing-masing segmen bisnis adalah sebagai berikut:

Laba Bersih yang Diatribusikan Kepada

PT Astra International Tbk

6 bulan yang berakhir 30 Juni

2019

Rp miliar

2018

Rp miliar

Perubahan

%

Otomotif

3.458

4.215

(18)

Jasa Keuangan

2.819

2.142

32

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

3.332

3.282

2

Agribisnis

35

625

(94)

Infrastruktur dan Logistik

83

4

1.975

Teknologi Informasi

44

68

(35)

Properti

32

48

(33)

Laba bersih konsolidasian

9.803

10.384

(6)

Otomotif

Laba bersih dari divisi otomotif Grup menurun 18% menjadi Rp3,5 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil dan meningkatnya biaya material pada aktivitas manufaktur. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • Penjualan mobil Astra turun 6% menjadi 253.000 unit dengan penjualan mobil secara nasional menurun 13% menjadi 482.000 unit (sumber: Gaikindo); pangsa pasar Astra meningkat dari 48% menjadi 53%; 8 model baru dan 2 model revamped telah diluncurkan pada periode ini.
  • Penjualan sepeda motor Honda Astra meningkat 8% menjadi 2,4 juta unit, dengan penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 7% menjadi 3,2 juta unit (sumber: Kementerian Perindustrian); 4 model baru dan 15 model revamped telah diluncurkan pada periode ini.
  • Bisnis komponen otomotif Grup, PT Astra Otoparts Tbk (AOP), mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 19% menjadi Rp246 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari segmen pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market) dan ekspor.

Jasa Keuangan

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup meningkat 32% menjadi Rp2,8 triliun, terutama disebabkan oleh pemulihan kredit bermasalah, provisi kerugian kredit yang lebih rendah, dan portofolio pembiayaan yang lebih besar. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • Bisnis pembiayaan konsumen Grup mengalami peningkatan nilai pembiayaan sebesar 6% menjadi Rp42,1 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil Grup meningkat 39% menjadi Rp713 miliar, disebabkan oleh penurunan kerugian atas kredit bermasalah. Kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor meningkat 10% menjadi Rp1,2 triliun, disebabkan portofolio pembiayaan yang lebih besar.
  • Total pembiayaan yang disalurkan oleh unit usaha pembiayaan alat berat Grup turun sebesar 4% menjadi Rp2,1 triliun. Kontribusi laba bersih dari segmen ini meningkat 32% menjadi Rp50 miliar, seiring dengan penurunan biaya provisi.
  • PT Bank Permata Tbk (Bank Permata), yang 44,6% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 146% menjadi Rp711 miliar, terutama disebabkan oleh pemulihan kredit bermasalah. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) dan bersih (net NPL) membaik menjadi masing-masing 3,6% dan 1,3%, dibandingkan dengan masing-masing sebesar 4,4% dan 1,7% pada akhir tahun 2018.
  • PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp540 miliar, disebabkan peningkatan hasil investasi.
  • Perusahaan patungan asuransi jiwa Grup, PT Astra Aviva Life (Astra Life) menambah lebih dari 321.000 nasabah baru asuransi jiwa perorangan dan 64.000 nasabah baru asuransi program kesejahteraan karyawan.

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

Laba bersih Grup dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi meningkat sebesar 2% menjadi Rp3,3 triliun, terutama disebabkan oleh kontribusi dari kegiatan operasional tambang emas dan peningkatan volume aktifitas penambangan yang sebagian diimbangi oleh penurunan penjualan alat berat serta efek dari translasi mata uang asing. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 2% menjadi Rp5,6 triliun.
  • Penjualan alat berat Komatsu menurun 20% menjadi 1.917 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan tercatat stabil.
  • Bisnis kontraktor penambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 5% menjadi 469 juta bank cubic metres dan peningkatan produksi batu bara sebesar 7% menjadi 61 juta ton.
  • Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 11% menjadi 5 juta ton, termasuk penjualan 674.000 ton coking coal.
  • PT Agincourt Resources, anak perusahaan yang 95% sahamnya dimiliki UT, melaporkan penjualan emas sebesar 194.000 oz.
  • Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan rugi bersih sebesar Rp404 miliar, dibandingkan dengan laba bersih Rp73 miliar pada semester pertama tahun lalu, terutama disebabkan oleh kenaikan biaya proyek dan pendanaan atas beberapa kontrak yang sedang berjalan.

Agribisnis

Laba bersih dari divisi Agribisnis Grup turun 94% menjadi Rp35 miliar. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 94% menjadi Rp44 miliar, terutama disebabkan oleh penurunah harga minyak kelapa sawit.
  • Pelemahan harga rata-rata minyak kelapa sawit sebesar 18% menjadi Rp6.441/kg dibandingkan dengan semester pertama tahun 2018.
  • Volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya meningkat sebesar 19% menjadi 1,2 juta ton.

Infrastruktur dan Logistik

Divisi infrastruktur dan logistik Grup mencatat laba bersih Rp83 miliar, meningkat secara signifikan dibandingkan laba bersih pada semester pertama tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari jalan-jalan tol yang telah beroperasi. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • Astra mempunyai kepemilikan saham di 339km ruas jalan tol yang telah beroperasi sepanjang jaringan jalan tol Trans-Jawa dan 11km ruas jalan tol yang masih dalam proses konstruksi.

  • Pendapatan jalan tol tercatat meningkat yang disebabkan oleh peningkatan volume lalu lintas sebesar 23% pada ruas jalan tol yang telah beroperasi, setelah tersambungnya seluruh jaringan jalan tol Trans-Jawa secara penuh pada bulan Desember 2018.
  • Pada bulan Mei 2019, Grup, melalui PT Astra Tol Nusantara, mengumumkan akuisisi atas 44,5% saham PT Jasamarga Surabaya Mojokerto, pemegang konsesi jalan tol Surabaya – Mojokerto sepanjang 36km.
  • Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) menurun sebesar 20% menjadi Rp89 miliar, disebabkan oleh penurunan jumlah kontrak sewa kendaraan leasing sebesar 6% menjadi 22.200 unit dan penurunan penjualan mobil bekas sebesar 5% menjadi 15.200 unit.

Teknologi Informasi

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup menurun 35% menjadi Rp44 miliar.

PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp57 miliar, 35% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018, yang disebabkan oleh penurunan pendapatan dari bisnis solusi TI dan layanan perkantoran, serta meningkatnya biaya operasi.

Properti

Divisi properti Grup melaporkan laba bersih sebesar Rp32 miliar, 33% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018, terutama disebabkan oleh berkurangnya pengakuan laba dari pengembangan proyek Anandamaya Residences yang telah selesai pada tahun 2018.

Proyek-proyek Grup lainnya, termasuk diantaranya adalah Arumaya di Jakarta Selatan, Asya di Jakarta Timur (yang keduanya merupakan proyek residensial) serta 3 hektar lahan pengembangan residensial dan komersial yang berlokasi di pusat bisnis Jakarta.

Prospek Bisnis

Kinerja Grup Astra pada semester pertama tahun 2019 dipengaruhi oleh lesunya konsumsi domestik dan tren penurunan harga-harga komoditas, tetapi juga diuntungkan oleh peningkatan kinerja bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi. Prospek hingga akhir tahun ini masih menantang karena kondisi-kondisi tersebut dapat berlanjut.

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

30 Juli 2019

Untuk informasi lebih lanjut,mohon hubungi:

Pongki Pamungkas

Chief of Corporate Affairs

PT Astra International Tbk

Tel: + 62 – 21 – 508-43-888

Tentang Astra

PT Astra International Tbk didirikan di Jakarta pada tahun 1957 sebagai sebuah perusahaan perdagangan umum dengan nama Astra International Inc. Pada tahun 1990, dilakukan perubahan nama menjadi PT Astra International Tbk, dalam rangka penawaran umum perdana saham Perseroan kepada masyarakat, yang dilanjutkan dengan pencatatan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan kode saham ASII.

Astra telah mengembangkan bisnisnya dengan menerapkan model bisnis yang berbasis sinergi dan terdiversifikasi pada tujuh segmen usaha, terdiri dari: 1) Otomotif, 2) Jasa Keuangan, 3) Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi, 4) Agribisnis, 5) Infrastruktur dan Logistik, 6) Teknologi Informasi dan 7) Properti.

Kegiatan operasional bisnis yang tersebar di seluruh Indonesia dikelola melalui lebih dari 230 anak perusahaan, ventura bersama dan entitas asosiasi, serta didukung oleh lebih dari 225.000 karyawan, berdasarkan data per Juni 2019.

Sebagai salah satu grup usaha terbesar nasional saat ini, Astra telah membangun reputasi yang kuat melalui penawaran rangkaian produk dan layanan berkualitas, dengan memperhatikan pelaksanaan tata kelola perusahaan dan tata kelola lingkungan yang baik. Astra senantiasa beraspirasi untuk menjadi perusahaan kebanggaan bangsa yang berperan serta dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, kegiatan bisnis Astra berupaya menerapkan perpaduan yang berimbang dalam aspek komersial bisnis dan sumbangsih non-bisnis melalui 9 yayasan yang dibinanya, juga melalui beragam program tanggung jawab sosial berkelanjutan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan serta pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM).Astra menginisiasi program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards yang tahun ini memasuki satu dasawarsa dan telah mengapresiasi 245 anak muda, yang terdiri dari 53 penerima tingkat nasional dan 192 penerima tingkat provinsi di lima bidang, yakni Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. Astra juga membina 81 Kampung Berseri Astra dan 645 Desa Sejahtera Astra di 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.astra.co.id & www.satu-indonesia.com.

Berita Lainnya: