Sri Sultan Hamengkubuwono X Resmikan Desa Tegalrejo Jadi Model Desa Wisata Budaya
Share

Siaran Pers

Sri Sultan Hamengkubuwono X Resmikan Desa Tegalrejo Jadi Model Desa Wisata Budaya

Gunungkidul: Grup Astra melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X pada hari ini (30/8) meresmikan Desa Tegalrejo, Gedangsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai Desa Wisata Budaya dalam acara “Pesona Gedangsari”. Turut hadir pada acara ini Bupati Kab. Gunungkidul Badingah, eksekutif dan manajemen Grup Astra.

Berawal dari sebuah keinginan untuk mengenalkan potensi Desa Tegalrejo ke masyarakat luas, PT Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) menjadi penggagas utama untuk merintis sebuah desa wisata budaya berkolaborasi dengan paguyuban komite sekolah dan masyarakat yang ada di Desa Tegalrejo.

“Kecamatan Gedangsari di Gunungkidul ini akan menjadi model pusat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui potensi desa wisata yang dipadukan dengan budaya,” ujar Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X yang meresmikan "Rintisan Desa Wisata Budaya Tegalrejo, Gedangsari".

Bupati Gunungkidul Badingah juga mengucapkan terima kasih kepada Astra selaku penggagas untuk merintis desa wisata budaya di Kec. Gedangsari ini, “Untuk merintis Desa Wisata Budaya, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, tentunya kami membutuhkan bantuan dari berbagai pihak meliputi dunia usaha dan masyarakat demi memajukan Kab. Gunungkidul,” tutur Badingah.

Rp 48 Miliar untuk D.I. Yogyakarta sejak 2006

Astra International melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim sejak 2006 mendukung pendidikan di D.I.Y. sebesar Rp 48 miliar yaitu Rp 39 miliar untuk Gunung Kidul dan Rp 9 miliar untuk Bantul. Dukungan senilai Rp 48 miliar tersebut dalam bentuk pembangunan fisik, pembinaan, pelatihan, bantuan donasi, sarana dan prasana untuk pendidikan atau Astra Untuk Indonesia Cerdas.

Ketua Pengurus YPA-MDR Arietta Adrianti menambahkan pembentukan desa wisata budaya ini merupakan wujud konkrit kepedulian Astra melalui YPA-MDR di Kab. Gunungkidul sejak 10 tahun yang lalu. “Dunia pendidikan mampu berperan dan berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat Gedangsari, khususnya Desa Tegalrejo dimana terdapat 6 SDN, 1 SMPN, dan 1 SMKN Binaan Astra menuju ekonomi kerakyatan,” tuturnya.

Dalam acara ini juga akan diserahkan 2 Piagam Pemecahan Rekor MURI Pertama: Membatik Lintas Generasi/Usia Pertama di dunia dan Pagelaran Busana Pertama di Wanajati yang pertama di Indonesia oleh Museum MURI kepada YPA-MDR, Bupati Gunungkidul Badingah, serta Indonesia Fashion Chamber (IFC) dan disaksikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Acara pun dilanjutkan di SMKN 2 Gedangsari untuk melakukan Gerakan Penanaman Pohon Zat Pewarna Alam oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, Arietta Adrianti, Badingah, Head of Environment, Social & Responsibility PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, Lions Clubs, FIF, dan Camat Gedangsari dan diakhiri dengan kunjungan ke Laboratorium Zat Pewarna Alam SMKN 2 Gedangsari.

Selain itu, masyarakat yang hadir akan dihibur oleh penampilan Parade Seni dan Budaya Gedangsari seperti Wayang Kulit dan Reog Jatilan, pameran kearifan lokal kerajinan produk seperti kerajinan akar bambu dan Kampung Batik, serta makanan olahan seperti makanan berbahan Garut/Kairut, Pisang, Singkong, dan lain-lain.

Selaras dengan komitmen Astra dalam program CSR pendidikan melalui YPA-MDR di semua area binaan di Indonesia adalah sekolah dengan konsep Sekolah Eskalator, yakni sekolah dengan pola pembinaan dan pendampingan yang berjenjang dan berkelanjutan yang dapat berdampak pada pemberdayaan masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Pesona Gedangsari

Peluncuran rintisan desa wisata budaya yang bertempat di Desa Tegalrejo ini ke depan diharapkan dapat menjadi wilayah destinasi wisata baru dengan segala potensinya. Potensi tersebut ditampilkan dengan adanya kampung batik, parade seni dan budaya Gedangsari, serta pameran kearifan lokal kerajinan produk dan makanan olahan khas Gedangsari, yang bertujuan untuk memperlihatkan potensi-potensi yang ada selain batik. Dimana seluruh potensi tersebut juga memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan ke depan.

Kampung Batik

Salah satu potensi di Yogya yang secara umum diketahui masyarakat tentu saja adalah batik. Di Kab. Gunungkidul, dusun-dusun di Gedangsari memiliki para pembatik yang sangat berkembang dan para pembatiknya telah mendapat sertifikasi oleh Disnaker Yogyakarta, bahkan Kec. Gedangsari memiliki motif batik khas yang telah dipatenkan. Maka kehadiran Kampung Batik dalam rangkaian acara “Pesona Gedangsari” sangat pas, mengingat banyaknya karya siswa binaan SD hingga SMKN, serta para UKM Batik Gedangsari yang sudah berkiprah dalam berbagai pameran, promosi, dan penjualan di tingkat daerah hingga taraf internasional.

Pagelaran Busana Pertama di Wanajati

Acara dimulai dengan “Pagelaran Busana Pertama di Wanajati” yang merupakan pagelaran busana pertama di Indonesia dan diberikan penghargaan oleh Museum MURI atas pemecahan rekor tersebut. Pagelaran busana ini juga memperlihatkan keunggulan batik yang ada di Desa Tegalrejo, Kec. Gedangsari, Kab. Gunungkidul, dan menghadirkan 90 looks yang merupakan karya dari berbagai desainer Indonesia Fashion Chamber (IFC) seperti Lia Mustafa, Dany Paraswati, Phillip Iswardono, Ratih Kristiani, Amin Hendra, dan Dandy T. Hidayat yang berkolaborasi dengan siswa SMKN 2 Gedangsari. Dari total tersebut, terdapat 60 looks yang merupakan hasil kolaborasi Dandy dengan siswa SMKN 2 Gedangsari dari penggunaan material kain hingga pengerjaannya.

Membatik Lintas Generasi/Usia

Pemecahan Rekor MURI lainnya juga dilakukan melalui kegiatan “Membatik Lintas Generasi/Usia” pertama di dunia yang menjadi salah satu rangkaian dalam acara “Pesona Gedangsari”. Kegiatan ini didukung oleh para pembatik mulai usia PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga para pembatik usia lanjut, dengan rentang usia mulai 5 tahun sampai dengan usia diatas 70 tahun yang semuanya berjumlah sekitar 130 orang.

Laboratorium Mini Zat Pewarna Alam SMKN 2 Gedangsari

Sejak tahun 2006, Astra telah membina telah memberikan kesiapan berupa pelatihan dan pengembangan budaya serta kecakapan hidup di 6 SDN, 1 SMPN, dan 1 SMKN yang ada di Gedangsari. Salah satunya juga dengan membantu meningkatkan pelestarian batik dengan menyiapkan fasilitas laboratorium mini zat pewarna alam di SMKN 2 Gedangsari yang bertujuan untuk menjadi tempat pelatihan para siswa dan masyarakat/UKM Batik agar dapat memproduksi sendiri zat pewarna alam tersebut. Terkait dengan hal tersebut, secara simbolis dilakukan Gerakan Penanaman Pohon Zat Pewarna Alam di Gedangsari.

Teaching Factory Perbengkelan Sepeda Motor Roda Dua

Sehubungan dengan Desa Tegalrejo yang berpotensi menjadi tujuan wisata baru, telah direncakan oleh Dispora dan BLPT Provinsi DIY adanya rintisan Teaching Factory Perbengkelan Sepeda Motor Roda Dua yang akan didukung oleh PT Astra Honda Motor dan Astra Motor Jakarta di SMKN 1 dan SMKN 2 Gedangsari yang dimana para siswanya akan unjuk kebolehan demo service motor roda yang merupakan bagian dari acara “Pesona Gedangsari”.

Sekilas Tentang Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR)

Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) secara khusus didirikan oleh PT Astra International Tbk untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat di bidang pendidikan di daerah prasejahtera.

Sesuai dengan butir pertama filosofi Astra, Catur Dharma, yaitu “Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara,” YPA-MDR memiliki visi untuk menjadi lembaga sosial yang terkemuka dan kredibel di bidang pendidikan, khususnya di daerah agar seluruh elemen pendidikan mampu meningkatkan kualitas dari segi akademik, intelektual dan kompetensi kecakapan hidup, seni budaya serta memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur Bangsa Indonesia yang majemuk sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.

YPA-MDR berperan aktif sebagai agent of change dan agent of development dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah dengan membantu pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, pengembangan kurikulum dan manajemen sekolah serta penyediaan sarana prasarana sekolah sesuai Standar Mutu Pendidikan Nasional.

Pola Pembinaan YPA-MDR

YPA-MDR meningkatan kualitas pendidikan di daerah prasejahtera melalui empat pilar pembinaan yaitu akademis, karakter, kecakapan hidup dan seni budaya sehingga menjadi Sekolah Swapraja menuju Sekolah Unggul.

Sejak tahun 2006, YPA-MDR membina 67 sekolah negeri, 905 guru dan 16.058 siswa. Yang terdiri dari: 54 SD, 9 SMP dan 4 SMK yang terletak di Bogor, Gunungkidul, Bantul, Lampung Selatan, Pacitan, Kutai Barat, Kupang, dan Serang.

Program bantuan yang diberikan oleh YPA-MDR kepada sekolah-sekolah binaan meliputi:

  • Pembinaan yang meliputi empat pilar yakni: pembinaan akademis, pendidikan karakter, kecakapan hidup dan seni budaya menuju kepada sekolah Swapraja.
  • Sarana penunjang pendidikan seperti buku pelajaran untuk siswa, buku pegangan untuk guru, buku perpustakaan, perangkat UKS serta alat peraga dan media pembelajaran.
  • Penambahan prasarana ruangan dan renovasi gedung sekolah berikut mebel agar kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik dan berkualitas.

Informasi lebih lanjut:

CP YPA-MDR : Andita Intan Puteri – [email protected] – 082122101101