PT ASTRA INTERNATIONAL TBK   (Grup Astra atau Perseroan) Laporan Keuangan Semester I Tahun 2018
Share

Siaran Pers

PT ASTRA INTERNATIONAL TBK (Grup Astra atau Perseroan) Laporan Keuangan Semester I Tahun 2018

26 Juli 2018

PT ASTRA INTERNATIONAL TBK (Grup Astra atau Perseroan)

Laporan Keuangan Semester I Tahun 2018

Ikhtisar

  • Laba bersih per saham meningkat 11% menjadi Rp257
  • Pangsa pasar sepeda motor tetap kuat, sedangkan pangsa pasar mobil menurun
  • Kenaikan harga batu bara menguntungkan alat berat, kontraktor penambangan dan volume pertambangan
  • Penurunan harga minyak kelapa sawit mengakibatkan kinerja agribisnis menurun

“Kinerja Grup Astra hingga akhir tahun 2018 diperkirakan cukup baik, didukung dengan stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan harga batu bara yang stabil, walaupun persaingan di pasar mobil dan melemahnya harga minyak kelapa sawit menjadi perhatian.”

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

Kinerja Keuangan Konsolidasi

6 bulan yang berakhir 30 Juni

2018

Rp miliar

2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Pendapatan Bersih

112.554

98.031

15

Laba bersih

10.384

9.340

11

Rp

Rp

Laba bersih per saham

257

231

11

30 Juni 2018

Rp miliar

31 Desember 2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk

127.721

123.780

3

Rp

Rp

Nilai aset bersih per saham

3.155

3.058

3

* Disajikan kembali sehubungan dengan penerapan PSAK No. 69: Agrikultur

Kinerja keuangan selama enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2018 dan 2017 serta posisi keuangan per 30 Juni 2018 disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan tidak diaudit. Posisi keuangan per 31 Desember 2017 telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan telah diaudit sesuai dengan standar audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

Laporan Presiden Direktur

Tinjauan Kinerja

Laba bersih Grup meningkat pada semester pertama 2018, hal ini terutama disebabkan peningkatan kontribusi dari bisnis alat berat dan pertambangan, serta jasa keuangan Grup, yang melebihi dari yang dapat diimbangi oleh pelemahan kontribusi dari kegiatan operasional agribisnis dan infrastruktur.

Kinerja

Pendapatan bersih konsolidasian Grup selama periode ini meningkat 15% menjadi Rp112,6 triliun, dengan peningkatan pendapatan terutama dari bisnis alat berat dan pertambangan.

Laba bersih Grup mencapai Rp10,4 triliun, meningkat 11% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Nilai aset bersih per saham Grup tercatat sebesar Rp3.155 pada 30 Juni 2018, 3% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.

Utang bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan mencapai Rp6,6 triliun dibandingkan dengan nilai kas bersih sebesar Rp2,7 triliun pada 31 Desember 2017, hal ini disebabkan oleh investasi Grup pada bisnis jalan tol dan GO-JEK serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp47,9 triliun, dibandingkan dengan Rp46,1 triliun pada akhir tahun 2017.

Kegiatan Bisnis

Kontribusi dari tiap segmen bisnis terhadap laba bersih konsolidasian Astra International pada periode ini adalah sebagai berikut:

Laba Bersih yang Diatribusikan Kepada

PT Astra International Tbk

6 bulan yang berakhir 30 Juni

2018

Rp miliar

2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Otomotif

4.215

4.200

0

Jasa Keuangan

2.142

2.035

5

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

3.282

2.057

90

03

60

Agribisnis

625

815

(23)

Infrastruktur dan Logistik

4

110

(96)

Teknologi Informasi

68

55

24

Properti

48

68

42

(29)

Laba bersih konsolidasi

10.384

9.340

11

* Disajikan kembali sehubungan dengan PSAK No. 69: Agrikultur

Otomotif

Laba bersih dari bisnis otomotif Grup stabil di posisi Rp4,2 triliun. Peningkatan laba bersih dari penjualan sepeda motor dan bisnis komponen otomotif melebihi dari yang dapat diimbangi oleh penurunan laba bersih dari penjualan mobil.

Penjualan mobil secara nasional meningkat 4% menjadi 554.000 unit pada periode semester pertama tahun 2018. Namun, penjualan mobil Astra turun 10% menjadi 268.000 unit akibat dari meningkatnya kompetisi, sehingga pangsa pasar Astra menurun dari 56% menjadi 48%. Grup telah meluncurkan 12 model baru dan 4 model revamped selama periode ini.

Penjualan motor secara nasional meningkat 11% menjadi 3 juta unit, sedangkan penjualan PT Astra Honda Motor (AHM) di pasar domestik meningkat 11% menjadi 2,2 juta unit, dengan pangsa pasar 74%. AHM telah meluncurkan 4 model baru dan 11 model revamped selama periode ini.

Laba bersih PT Astra Otoparts Tbk (AOP), bisnis komponen otomotif Grup, meningkat 4% menjadi Rp206 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari meningkatnya kinerja penjualan pasar pabrikan otomotif (OEM/original equipment manufacturer) dan pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market).

Jasa Keuangan

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup meningkat 5% menjadi Rp2,1 triliun, dengan peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumennya.

Selama semester pertama tahun 2018, bisnis pembiayaan konsumen Grup mengalami penurunan nilai pembiayaan sebesar 6% menjadi Rp39,7 triliun akibat turunnya pembiayaan pada segmen mobil low cost. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil Grup meningkat 2% menjadi Rp512 miliar, disebabkan oleh penurunan provisi. Kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor meningkat 20% menjadi Rp1,1 triliun, disebabkan portofolio pembiayaan yang lebih besar.

Total pembiayaan yang disalurkan oleh unit usaha pembiayaan alat berat Grup turun sebesar 30% menjadi Rp2,2 triliun, terutama disebabkan berkurangnya jumlah pinjaman kepada perusahaan kecil dan menengah.

PT Bank Permata Tbk (Bank Permata), yang 44,6% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat laba bersih sebesar Rp275 miliar dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp621 miliar, turun sebesar 56%. Kinerja Bank Permata pada semester pertama tahun 2017 diuntungkan dari one-off gain atas penjualan non-performing loans. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) dan bersih (net NPL) pada 30 Juni 2018, masing-masing sebesar 4,3% dan 1,5%.

Pada Mei 2018, Bank Permata menjual seluruh sahamnya sebesar 25% di PT Astra Sedaya Finance (ASF) dengan nilai total transaksi sebesar Rp2,8 triliun, untuk memperkuat permodalan dan memaksimalkan alokasi modal untuk pinjaman.

PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), perusahaan asuransi umum Grup, mencatat penurunan laba bersih sebesar 2% menjadi Rp495 miliar, disebabkan penurunan keuntungan investasi. Pada periode yang sama, perusahaan patungan asuransi jiwa Grup, PT Astra Aviva Life (Astra Life) menambah lebih dari 138.000 nasabah baru asuransi jiwa perorangan dan 507.000 nasabah baru asuransi program kesejahteraan karyawan.

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

Laba bersih Grup dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi meningkat sebesar 60% menjadi Rp3,3 triliun.

PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan melaporkan peningkatan laba bersih 60% sebesar Rp5,5 triliun, terutama disebabkan peningkatan kinerja bisnis mesin konstruksi, kontraktor penambangan, dan pertambangan, sebagai dampak dari peningkatan harga batu bara.

Pada bisnis mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu meningkat 37% menjadi 2.400 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan juga meningkat. Bisnis kontraktor penambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat peningkatan produksi batu bara sebesar 8% menjadi 56 juta ton dan kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 23% menjadi 445 juta bank cubic metres. Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 22% menjadi 4,4 juta ton.

Selama semester pertama tahun 2018, PT Suprabari Mapanindo Mineral (SMM), perusahaan coking coal yang 80,1% sahamnya dimiliki UT dan mulai beroperasi pada akhir 2017, berhasil mencatat penjualan batu bara sebanyak 342.000 ton.

Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 14% menjadi Rp73 miliar, karena kenaikan pendapatan dari proyek yang sedang berjalan. Penambahan proyek-proyek konstruksi baru senilai Rp300 miliar berhasil diperoleh selama semester pertama tahun 2018.

PT Bhumi Jati Power (BJP), yang 25% sahamnya dimiliki UT, sedang dalam proses konstruksi dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas masing-masing 1.000 mega watt (MW) di Jawa Tengah, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2021.

Agribisnis

Laba bersih dari segmen Agribisnis Grup turun sebesar 23% menjadi Rp625 miliar.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih 23% menjadi Rp784 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pelemahan harga rata-rata minyak kelapa sawit sebesar 8% menjadi Rp7.893/kg dibandingkan dengan semester pertama tahun 2017. Penurunan tersebut belum dapat diimbangi oleh kenaikan volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya sebesar 19% menjadi 992.000 ton.

Infrastruktur dan Logistik

Segmen infrastruktur dan logistik Grup mencatat laba bersih Rp4 miliar, dibandingkan dengan laba bersih Rp110 miliar pada semester pertama tahun 2017. Kerugian awal dari beroperasinya jalan tol Cikopo-Palimanan yang diakuisisi pada semester pertama tahun 2017 dan baru beroperasinya tol Semarang-Solo, belum dapat diimbangi oleh meningkatnya laba dari tol Tangerang-Merak and PT Serasi Autoraya.

Total portofolio Grup pada bisnis jalan tol adalah 353km, dimana sepanjang 269km sudah beroperasi. PT Marga Mandalasakti (MMS), perusahaan operator jalan tol Tangerang-Merak sepanjang 72,5km, yang 79,3% sahamnya dimiliki Perseroan, berhasil meningkatkan pendapatannya sebesar 12% menjadi Rp516 miliar, sedangkan jalan tol Jombang-Mojokerto sepanjang 40,5km, yang sepenuhnya milik Perseroan, dan telah beroperasi pada September 2017 sepanjang 39,6km, mencatat pendapatan sebesar Rp97 miliar pada semester pertama tahun 2018. Pendapatan jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116,8km, yang 45% sahamnya dimiliki Perseroan, meningkat sebesar 13% menjadi Rp686 miliar. Jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,6km, yang 40% sahamnya dimiliki Grup dan telah beroperasi sepanjang 40,1km menyusul pembukaan seksi 3 pada September 2017, mencatat pendapatan sebesar Rp117 miliar, naik 46% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Grup juga memiliki 40% saham di jalan tol Kunciran-Serpong sepanjang 11,2 km dan 25% saham di jalan tol Serpong-Balaraja sepanjang 39,8km, di mana keduanya masih dalam pengembangan.

Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) meningkat sebesar 39% menjadi Rp111 miliar, terutama disebabkan oleh meningkatnya marjin bisnis leasing dan rental mobil. Jumlah kontrak sewa kendaraan SERA mengalami kenaikan 4% menjadi 24.000 unit.

Teknologi Informasi

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup mencatat kenaikan 24% menjadi Rp68 miliar.

PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan mengalami peningkatan laba bersih 24% menjadi Rp88 miliar disebabkan peningkatan pendapatan pada bisnis solusi dokumen dan teknologi informasi, serta bisnis layanan perkantoran.

Properti

Segmen properti Grup melaporkan laba bersih sebesar Rp48 miliar pada semester pertama tahun 2018 dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp68 miliar pada tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh rendahnya penerimaan laba yang diakui dari pengembangan proyek Anandamaya Residences, hal ini mencerminkan tingkat persentase penyelesaian proyek yang semakin mengecil pada tahap akhir konstruksi.

Pada April 2018, PT Astra Land Indonesia (ALI), yang 50% sahamnya dimiliki Grup, membeli 3 hektare tanah di pusat bisnis Jakarta, untuk pengembangan hunian dan komersial. Bersama dengan proyek-proyek pengembangan properti lainnya yang dimiliki oleh Grup, yaitu Arumaya di Jakarta Selatan dan Asya di Jakarta Timur, total lahan untuk pengembangan properti Grup saat ini adalah sejumlah 70 hektar.

Prospek Bisnis

Kinerja Grup Astra hingga akhir tahun 2018 diperkirakan cukup baik, didukung dengan stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan harga batu bara yang stabil, walaupun persaingan di pasar mobil dan melemahnya harga minyak kelapa sawit menjadi perhatian.

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

26 Juli 2018

Untuk informasi lebih lanjut,mohon hubungi:

PT Astra International Tbk

Pongki Pamungkas, Chief of Corporate Communication, Social Responsibility & Security
Tel: + 62 – 21 – 6530 4956