Laporan Keuangan Astra Tahun 2018
Share

Siaran Pers

Laporan Keuangan Astra Tahun 2018

27 Februari 2019

PT ASTRA INTERNATIONAL TBK (Grup Astra atau Perseroan)

LAPORAN KEUANGAN TAHUN 2018

Ikhtisar

  • Laba bersih per saham meningkat 15% menjadi Rp535
  • Kenaikan harga batu bara menguntungkan pendapatan bisnis alat berat, kontraktor penambangan dan pertambangan
  • Kenaikan kontribusi laba dari bisnis jasa keuangan
  • Pasar otomotif meningkat dengan tingkat penjualan motor dan mobil yang lebih tinggi
  • Penurunan harga minyak kelapa sawit mengakibatkan kinerja agribisnis menurun

“Grup telah mencapai kinerja yang baik pada tahun 2018, tetapi situasi bisnis tahun 2019 tampaknya lebih menantang karena ketidakpastian kondisi makro ekonomi, pasar mobil yang sangat kompetitif dan penurunan harga komoditas."

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

Kinerja Keuangan Konsolidasi

Untuk tahun yang berakhir 31 Desember

2018

Rp miliar

2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Pendapatan

239.205

206.057

16

Laba bersih

21.673

18.847

15

Rp

Rp

Laba bersih per saham

535

466

15

31 Desember 2018

Rp miliar

31 Desember 2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk

136.947

123.780

11

Rp

Rp

Nilai aset bersih per saham

3.383

3.058

11

* Disajikan kembali sehubungan dengan penerapan PSAK No. 69: Agrikultur

Kinerja keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2018 dan 2017 serta posisi keuangan per 31 Desember 2018 dan 2017 telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan telah diaudit sesuai dengan standar audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

Laporan Presiden Direktur

Tinjauan Kinerja

Laba bersih Grup meningkat pada tahun 2018, disebabkan peningkatan kontribusi dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, serta segmen bisnis jasa keuangan, yang kenaikannya melebihi dari penurunan kontribusi segmen agribisnis dan bisnis otomotif. Sementara itu, pelemahan mata uang Rupiah sepanjang tahun menekan margin bisnis manufaktur Grup, dimana hal ini dapat diimbangi oleh dampak positif dari kontraktor penambangan dan aktivitas ekspor otomotif.

Kinerja

Pendapatan bersih konsolidasian Grup untuk tahun 2018 meningkat 16% menjadi Rp239,2 triliun, dengan pertumbuhan pendapatan pada hampir semua segmen bisnis, terutama dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, serta otomotif.

Laba bersih Grup mencapai Rp21,7 triliun, meningkat 15% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp3.383 pada 31 Desember 2018, 11% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.

Utang bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp13,0 triliun pada akhir tahun 2018, turun dibandingkan dengan nilai kas bersih sebesar Rp2,7 triliun pada 31 Desember 2017, hal ini disebabkan oleh investasi Grup pada bisnis jalan tol, konsesi tambang emas dan GOJEK. Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp47,7 triliun, dibandingkan dengan Rp46,1 triliun pada akhir tahun 2017.

Dividen final sebesar Rp154 per saham (2017: Rp130 per saham) akan diusulkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada April 2019. Usulan dividen final tersebut bersama dengan dividen interim Rp60 per saham (2017: Rp55 per saham) akan menjadikan dividen total pada tahun 2018 menjadi sebesar Rp214 per saham (2017: Rp185 per saham).

Kegiatan Bisnis

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham Astra International dari masing-masing segmen bisnis adalah sebagai berikut:

Laba Bersih yang Diatribusikan Kepada

PT Astra International Tbk

untuk tahun yang berakhir 31 Desember

2018

Rp miliar

2017*

Rp miliar

Perubahan

%

Otomotif

8.518

8.868

(4)

Jasa Keuangan

4.815

3.752

28

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

6.630

4.469

48

Agribisnis

1.146

1.568

(27)

Infrastruktur dan Logistik

196

(231)

N/A

Teknologi Informasi

208

198

5

Properti

160

223

(28)

Laba Bersih Konsolidasi

21.673

18.847

15

* Disajikan kembali sehubungan dengan PSAK No. 69: Agrikultur

Otomotif

Laba bersih dari bisnis otomotif Grup lebih rendah 4% menjadi Rp8,5 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan margin operasi, walaupun terdapat kenaikan unit penjualan otomotif.

Penjualan mobil secara nasional meningkat 7% pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2017 menjadi 1,15 juta unit. Penjualan mobil Astra lebih tinggi 1% menjadi 582.000 unit, namun karena meningkatnya kompetisi, pangsa pasar Astra menurun dari 54% menjadi 51%. Grup telah meluncurkan 18 model baru dan 7 model revamped sepanjang tahun 2018.

Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 8% menjadi 6,4 juta unit. Penjualan PT Astra Honda Motor (AHM) di pasar domestik meningkat 9% menjadi 4,8 juta unit, dengan pangsa pasar yang stabil sebesar 75%. Grup telah meluncurkan 6 model baru dan 19 model revamped sepanjang tahun 2018.

PT Astra Otoparts Tbk (AOP), bisnis komponen otomotif Grup, melaporkan peningkatan laba bersih 11% menjadi Rp611 miliar, disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari meningkatnya kinerja penjualan pasar pabrikan otomotif (OEM/original equipment manufacturer) dan pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market).

Jasa Keuangan

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup meningkat 28% menjadi Rp4,8 triliun, dengan peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen, bank dan bisnis asuransi umum.

Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil Grup meningkat 26% menjadi Rp1,2 triliun, disebabkan oleh provisi kerugian pinjaman yang lebih rendah dan naiknya kepemilikan saham Grup di PT Astra Sedaya Finance (ASF). Kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor meningkat 16% menjadi Rp2,3 triliun, yang mencerminkan portofolio pembiayaan yang meningkat. Secara keseluruhan, bisnis pembiayaan konsumen Grup mengalami penurunan nilai pembiayaan sebesar 1% menjadi Rp81 triliun terutama akibat turunnya pembiayaan pada segmen mobil low cost.

Kontribusi laba bersih dari unit usaha pembiayaan alat berat Grup naik sebesar 30% menjadi Rp86 miliar, sebagian dikarenakan penurunan provisi kerugian pembiayaan. Total pembiayaan turun 12% menjadi Rp5,2 triliun, terutama disebabkan berkurangnya jumlah pinjaman kepada perusahaan skala kecil dan menengah.

PT Bank Permata Tbk (Bank Permata), yang 44,6% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat laba bersih sebesar Rp901 miliar dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp748 miliar pada tahun 2017, yang disebabkan meningkatnya keuntungan bunga bersih dan pemulihan rasio kredit bermasalah. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) sebesar 4,4% pada akhir tahun 2018 dibandingkan 4,6% pda akhir tahun 2017, sementara itu, rasio kredit bermasalah bersih (net NPL) stabil sebesar 1,7%.

PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 4% menjadi Rp1,0 triliun, terutama disebabkan peningkatan keuntungan investasi. Sepanjang tahun 2018, perusahaan patungan asuransi jiwa Grup, PT Astra Aviva Life (Astra Life) menambah lebih dari 339.000 nasabah baru asuransi jiwa perorangan dan lebih dari 713.000 nasabah baru asuransi program kesejahteraan karyawan.

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

Laba bersih Grup dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi meningkat sebesar 48% menjadi Rp6,6 triliun.

PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 50% menjadi Rp11,1 triliun, terutama disebabkan peningkatan kinerja bisnis mesin konstruksi, kontraktor penambangan, dan pertambangan, yang seluruhnya diuntungkan oleh harga batu bara yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2017.

Pada bisnis mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu tumbuh 29% menjadi 4.878 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan juga meningkat. Bisnis kontraktor penambangan yang sepenuhnya dimiliki Grup, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 22% menjadi 979 juta bank cubic metres serta peningkatan produksi batu bara sebesar 11% menjadi 125 juta ton. Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan pertumbuhan penjualan batu bara sebesar 11% menjadi 7 juta ton, termasuk penjualan sebesar 807.000 ton coking coal dari PT Suprabari Mapanindo Mineral (SMM), perusahaan coking coal yang 80,1% sahamnya dimiliki UT dan mulai beroperasi pada akhir 2017. PT Agincourt Resources, yang 95% sahamnya telah diakuisisi UT pada Desember 2018 dan yang mengoperasikan konsesi tambang emas di Sumatera, melaporkan penjualan emas 35.000 ons selama Desember 2018.

Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan penurunan laba bersih sebesar 88% menjadi Rp18 miliar, yang disebabkan oleh kenaikan beban pembiayaan. Penambahan proyek-proyek konstruksi baru senilai Rp1,6 triliun berhasil diperoleh sepanjang tahun 2018.

PT Bhumi Jati Power (BJP), yang 25% sahamnya dimiliki UT, sedang dalam proses konstruksi dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas masing-masing 1.000MW di Jawa Tengah, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2021.

Agribisnis

Laba bersih dari segmen agribisnis Grup turun sebesar 27% menjadi Rp1,1 triliun.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih 27% menjadi Rp1,4 triliun yang terutama disebabkan oleh penurunan harga minyak kelapa sawit sebesar 12% menjadi Rp7.275/kg dibandingkan dengan rata-rata pada tahun 2017. Penurunan tersebut belum dapat diimbangi oleh kenaikan volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya sebesar 30% menjadi 2,3 juta ton.

Infrastruktur dan Logistik

Segmen infrastruktur dan logistik Grup mencatat laba bersih Rp196 miliar pada tahun 2018, dibandingkan dengan rugi bersih Rp231 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini merupakan dampak meningkatnya keuntungan dari bisnis jalan tol Tangerang-Merak dan unit bisnis PT Serasi Autoraya, serta adanya dampak kerugian dari divestasi 49% kepemilikan saham di PT PAM Lyonnaise Jaya pada tahun sebelumnya.

Astra memiliki 302km jalan tol yang telah beroperasi di sepanjang jaringan Trans Jawa, dan 11km di Jabodetabek yang sedang dalam proses konstruksi. Pendapatan jalan tol pada PT Marga Mandalasakti (MMS), perusahaan operator jalan tol Tangerang-Merak sepanjang 72,5km, yang 79,3% sahamnya dimiliki Perseroan, meningkat sebesar 10% menjadi Rp1,1 triliun, sementara itu jalan tol Jombang-Mojokerto sepanjang 40,5km, yang sepenuhnya milik Perseroan telah beroperasi penuh pada Desember 2018, mencatat pendapatan sebesar Rp213 miliar sepanjang tahun 2018. Pendapatan jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116,8km, yang 45% sahamnya dimiliki Perseroan, meningkat sebesar 12% menjadi Rp1,4 triliun. Jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,6km, yang 40% sahamnya dimiliki Grup, mencatat kenaikan pendapatan jalan tol sebesar 39% menjadi Rp248 miliar.

Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) meningkat sebesar 50% menjadi Rp302 miliar, terutama disebabkan oleh meningkatnya marjin bisnis leasing dan rental mobil. Jumlah kontrak sewa kendaraan SERA mengalami kenaikan 2% menjadi 23.000 unit.

Teknologi Informasi

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup mencatat kenaikan 5% menjadi Rp208 miliar.

PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp270 miliar yang disebabkan peningkatan pendapatan segmen bisnis solusi dokumen dan solusi IT.

Properti

Segmen properti Grup melaporkan penurunan laba bersih sebesar 28% menjadi Rp160 miliar, terutama disebabkan oleh menurunnya penerimaan laba yang diakui dari pengembangan proyek Anandamaya Residences, sebagai dampak dari tingkat persentase penyelesaian proyek yang semakin mengecil pada tahap akhir konstruksi.

Proyek-proyek pengembangan properti yang dimiliki oleh Grup terdiri dari Arumaya di Jakarta Selatan dan Asya di Jakarta Timur, keduanya merupakan proyek residensial, serta 3 hektare proyek pengembangan residensial dan komersial di Kawasan Pusat Bisnis Jakarta.

Prospek Bisnis

Grup telah mencapai kinerja yang baikpada tahun 2018, tetapi situasi bisnis tahun 2019 tampaknya lebih menantang karena ketidakpastian kondisi makro ekonomi, pasar mobil yang sangat kompetitif dan harga komoditas yang turun.

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

27 Februari 2019

Untuk informasi lebih lanjut,mohon hubungi:

PT Astra International Tbk

Pongki Pamungkas, Chief of Corporate Affairs

Tel: + 62 – 21 – 508-43-888