Laporan Keuangan Astra Kuartal III Tahun 2019
Share

Siaran Pers

Laporan Keuangan Astra Kuartal III Tahun 2019

31 Oktober 2019
PT ASTRA INTERNATIONAL TBK (Grup Astra atau Perseroan)
Laporan Keuangan Kuartal III Tahun 2019
Ikhtisar
· Laba bersih per saham menurun 7% menjadi Rp392
· Penjualan sepeda motor meningkat 5%, sedangkan penjualan mobil menurun 7%, dengan peningkatan pangsa pasar untuk keduanya
· Peningkatan kontribusi laba dari jasa keuangan dan usaha tambang emas
· Aktivitas bisnis alat berat, tambang batu bara dan agribisnis terimbas penurunan harga- harga komoditas
"Sementara pencapaian kinerja tahunan Grup diperkirakan masih akan diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi, tantangan atas konsumsi domestik yang lemah dan harga komoditas yang rendah masih tetap perlu diwaspadai."
Prijono Sugiarto
Presiden Direktur
Kinerja Keuangan Konsolidasi

Untuk periode yang berakhir 30 September

2019

Rp miliar

2018

Rp miliar

Perubahan

%

Pendapatan bersih

177.044

174.881

1

Laba bersih*

15.868

17.073

(7)

Rp

Rp

Laba bersih per saham

392

422

(7)

30 September 2019

Rp miliar

31 Desember 2018

Rp miliar

Perubahan

%

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk**

142.885

136.947

4

Rp

Rp

Nilai aset bersih per saham**

3.529

3.383

4

  • Laba bersih adalah laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yaitu pemegang saham Astra International.

** Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan nilai aset bersih per saham didasarkan pada ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama yang berakhir pada 30 September 2019 dan 2018 serta posisi keuangan per 30 September 2019 disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan tidak diaudit. Posisi keuangan per 31 Desember 2018 disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan telah diaudit sesuai dengan standar audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

LAPORAN PRESIDEN DIREKTUR
Tinjauan Kinerja
Laba bersih Grup menurun 7% pada sembilan bulan pertama tahun 2019, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan kontribusi dari divisi otomotif dan agribisnis, yang mana penurunan tersebut lebih besar daripada peningkatan kontribusi dari divisi jasa keuangan.
Kinerja
Pendapatan bersih konsolidasian Grup selama periode ini meningkat 1% menjadi Rp177,0 triliun, yang terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, divisi jasa keuangan, serta divisi infrastruktur dan logistik. Kenaikan tersebut lebih besar dari penurunan pada divisi otomotif dan agribisnis.
Laba bersih Grup mencapai Rp15,9 triliun, menurun 7% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp3.529 pada 30 September 2019, 4% lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun 2018.
Utang bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp17,7 triliun pada 30 September 2019, dibandingkan dengan Rp13,0 triliun pada akhir tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh investasi Grup pada jalan tol baru dan Gojek serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp47,1 triliun pada 30 September 2019, dibandingkan dengan Rp47,7 triliun pada akhir tahun 2018.
Kegiatan Bisnis
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham PT Astra International Tbk dari masing-masing segmen bisnis adalah sebagai berikut:

Laba Bersih yang Diatribusikan Kepada PT Astra International Tbk

Untuk periode yang berakhir 30 September

2019

Rp miliar

2018

Rp miliar

Perubahan

%

Otomotif

6.060

7.013

(14)

Jasa Keuangan

4.306

3.452

25

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

5.140

5.428

(5)

Agribisnis

89

896

(90)

Infrastruktur dan Logistik

155

112

38

Teknologi Informasi

77

106

(28)

Properti

41

66

(38)

Laba Bersih Konsolidasian

15.868

17.073

(7)

Otomotif
Laba bersih dari divisi otomotif Grup mengalami penurunan sebesar 14% menjadi Rp6,1 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil, meningkatnya biaya- biaya produksi serta efek dari translasi nilai tukar mata uang asing. Berikut adalah ikhtisarnya:
  • Penjualan mobil Astra turun 7% menjadi 396.000 unit. Penjualan mobil secara nasional turun 12% menjadi 754.000 unit (sumber: Gaikindo). Pangsa pasar Astra meningkat dari 50% menjadi 53%. Pada periode ini telah diluncurkan 14 model baru dan 7 model revamped.
  • Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 4% menjadi 4,9 juta unit. Penjualan sepeda motor Astra Honda meningkat 5% menjadi 3,7 juta unit, dengan pangsa pasar sedikit meningkat menjadi 75% (sumber: Kementerian Perindustrian). Pada periode ini telah diluncurkan 6 model baru dan 19 model revamped.
  • Bisnis komponen otomotif Grup, PT Astra Otoparts Tbk (AOP), yang 80% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 24% menjadi Rp512 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari segmen pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market) dan menurunnya biaya produksi.
Jasa Keuangan
Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup meningkat 25% menjadi Rp4,3 triliun, terutama disebabkan oleh portofolio pembiayaan yang lebih besar dan pemulihan kredit bermasalah. Berikut adalah ikhtisarnya:
  • Bisnis pembiayaan konsumen Grup mengalami peningkatan nilai pembiayaan sebesar 7% menjadi Rp64,2 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil Grup meningkat 31% menjadi Rp1,1 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan kerugian atas kredit bermasalah. Kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor Grup meningkat 8% menjadi Rp1,9 triliun, disebabkan portofolio pembiayaan yang lebih besar.
  • Total pembiayaan yang disalurkan oleh unit usaha pembiayaan alat berat Grup turun sebesar 17% menjadi Rp3,1 triliun. Kontribusi laba bersih dari segmen ini meningkat 27% menjadi Rp76 miliar, seiring dengan penurunan biaya provisi.
  • PT Bank Permata Tbk (Bank Permata), yang 44,6% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 121% menjadi Rp1,1 triliun, dikontribusikan oleh peningkatan pendapatan dan penurunan biaya provisi, yang disebabkan oleh peningkatan kualitas pinjaman dan pemulihan kredit bermasalah. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) dan bersih (net NPL) membaik menjadi masing-masing 3,3% dan 1,2%, dibandingkan dengan masing-masing sebesar 4,4% dan 1,7% pada akhir tahun 2018.
  • PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 6% menjadi Rp809 miliar, disebabkan peningkatan hasil investasi.
  • Perusahaan patungan asuransi jiwa Grup, PT Astra Aviva Life (Astra Life) menambah lebih dari 723.000 nasabah baru asuransi jiwa perorangan dan 140.000 nasabah baru asuransi program kesejahteraan karyawan.
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Laba bersih Grup dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menurun sebesar 5% menjadi Rp5,1 triliun, terutama disebabkan oleh efek translasi nilai tukar mata uang asing, dimana tahun lalu terdapat keuntungan translasi nilai tukar mata uang asing yang signifikan. Jika tidak termasuk translasi nilai tukar mata uang asing, laba bersih akan mengalami sedikit peningkatan, terutama disebabkan oleh kontribusi dari usaha tambang emas baru dan peningkatan volume kontraktor penambangan, yang sebagian diimbangi oleh penurunan penjualan alat berat karena harga batu bara yang turun dan laba bersih bisnis kontraktor umum yang lebih rendah. Berikut adalah ikhtisarnya:
  • PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp8,6 triliun.
  • Penjualan alat berat Komatsu turun sebesar 30% menjadi 2.568 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan tercatat stabil.
  • Bisnis kontraktor penambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 5% menjadi 750 juta bank cubic metres dan peningkatan produksi batu bara sebesar 7% menjadi 96 juta ton.
  • Anak perusahaan UT di bidang pertambangan mencatatkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 11% menjadi 6,4 juta ton, termasuk penjualan 0,8 juta ton coking coal, namun terimbas oleh harga batu bara yang lebih rendah.
  • PT Agincourt Resources, anak perusahaan yang 95% sahamnya dimiliki UT, melaporkan penjualan emas sebesar 306.000 oz.
  • Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan rugi bersih sebesar Rp752 miliar, dibandingkan dengan laba bersih Rp91 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan biaya proyek dan pendanaan atas beberapa kontrak yang sedang berjalan.
Agribisnis
Laba bersih dari divisi Agribisnis Grup turun 90% menjadi Rp89 miliar. Berikut adalah ikhtisarnya:
  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 90% menjadi Rp111 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan harga minyak kelapa sawit.
  • Harga rata-rata minyak kelapa sawit melemah sebesar 16% menjadi Rp6.449/kg.
  • Volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya meningkat sebesar 10% menjadi 1,7 juta ton.
Infrastruktur dan Logistik
Divisi infrastruktur dan logistik Grup mencatat laba bersih yang meningkat sebesar 38% menjadi Rp155 miliar. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari jalan- jalan tol yang telah beroperasi. Berikut adalah ikhtisarnya:
  • Astra mempunyai kepemilikan saham di 339km ruas jalan tol Grup yang telah beroperasi sepanjang jaringan jalan tol Trans-Jawa dan 11km yang berlokasi di jalan tol lingkar luar Jakarta saat ini masih dalam proses konstruksi.
  • Pendapatan jalan tol tercatat naik yang disebabkan oleh peningkatan volume lalu lintas sebesar 22% pada ruas jalan tol yang telah beroperasi, setelah tersambungnya seluruh jaringan jalan tol Trans-Jawa secara penuh pada bulan Desember 2018.
  • Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) menurun sebesar 23% menjadi Rp147 miliar, yang disebabkan oleh penurunan jumlah kendaraan yang dikontrakkan dan penurunan penjualan mobil bekas.
Teknologi Informasi
Laba bersih dari divisi teknologi informasi Grup menurun 28% menjadi Rp77 miliar.
  • PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 28% menjadi Rp100 miliar. Hal ini disebabkan oleh penurunan marjin laba operasional, meskipun pendapatan dari bisnis solusi dokumen dan bisnis solusi layanan perkantoran meningkat.
Properti
Divisi properti Grup melaporkan penurunan laba bersih 38% menjadi sebesar Rp41 miliar, terutama disebabkan oleh berkurangnya pengakuan laba dari pengembangan proyek Anandamaya Residences yang telah selesai pada tahun 2018.
Proyek-proyek Grup lainnya, termasuk diantaranya adalah Arumaya di Jakarta Selatan, Asya di Jakarta Timur (yang keduanya merupakan proyek residensial) serta 3 hektare lahan pengembangan residensial dan komersial yang berlokasi di pusat bisnis Jakarta.
Prospek Bisnis
Sementara pencapaian kinerja tahunan Grup diperkirakan masih akan diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi, tantangan atas konsumsi domestik yang lemah dan harga komoditas yang rendah masih tetap perlu diwaspadai.
Prijono Sugiarto
Presiden Direktur
31 Oktober 2019
Untuk informasi lebih lanjut,mohon hubungi:
Pongki Pamungkas
Chief of Corporate Affairs
PT Astra International Tbk
Tel: + 62 – 21 – 508-43-888
Tentang PT Astra International Tbk:
PT Astra International Tbk didirikan di Jakarta pada tahun 1957 sebagai sebuah perusahaan perdagangan umum dengan nama Astra International Inc. Pada tahun 1990, dilakukan perubahan nama menjadi PT Astra International Tbk, dalam rangka penawaran umum perdana saham Perseroan kepada masyarakat, yang dilanjutkan dengan pencatatan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan ticker ASII.
Astra telah mengembangkan bisnisnya dengan menerapkan model bisnis yang berbasis sinergi dan terdiversifikasi pada tujuh segmen usaha, terdiri dari: 1) Otomotif, 2) Jasa Keuangan, 3) Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi, 4) Agribisnis, 5) Infrastruktur dan Logistik, 6) Teknologi Informasi dan 7) Properti.
Kegiatan operasional bisnis yang tersebar di seluruh Indonesia dikelola melalui 234 anak perusahaan, ventura bersama serta entitas asosiasi, didukung oleh 226.504 karyawan, berdasarkan data September 2019.
Sebagai salah satu grup usaha terbesar nasional saat ini, Astra telah membangun reputasi yang kuat melalui penawaran rangkaian produk dan layanan berkualitas, dengan memperhatikan pelaksanaan tata kelola perusahaan dan tata kelola lingkungan yang baik. Astra senantiasa beraspirasi untuk menjadi perusahaan kebanggaan bangsa yang berperan serta dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, kegiatan bisnis Astra berupaya menerapkan perpaduan yang berimbang dalam aspek komersial bisnis dan sumbangsih non-bisnis melalui 9 yayasan yang dibinanya, juga melalui beragam program tanggung jawab sosial berkelanjutan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan serta pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM). Astra menginisiasi program Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards yang tahun ini memasuki satu dasawarsa dan telah mengapresiasi 305 anak muda, yang terdiri dari 59 penerima tingkat nasional dan 246 penerima tingkat provinsi di lima bidang, yakni Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. Beberapa penerima apresiasi tersebut telah dikolaborasikan oleh Astra melalui 85 Kampung Berseri Astra dan 645 Desa Sejahtera Astra di 34 provinsi di seluruh Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.astra.co.id & www.satu-indonesia.com.