LAPORAN KEUANGAN ASTRA TAHUN 2019
Share

Siaran Pers

LAPORAN KEUANGAN ASTRA TAHUN 2019

27 Februari 2020

PT ASTRA INTERNATIONAL TBK (Perseroan)

LAPORAN KEUANGAN TAHUN 2019

Ikhtisar

  • Laba bersih per saham stabil sebesar Rp536
  • Penjualan sepeda motor
    meningkat 3%, sedangkan penjualan mobil menurun 8%, dengan peningkatan pangsa pasar untuk keduanya
  • Peningkatan kontribusi laba dari jasa keuangan dan usaha tambang emas
  • Aktivitas bisnis alat berat, tambang batu bara dan agribisnis terimbas penurunan harga-harga komoditas

“Kinerja Grup selama tahun 2019 terimbas pelemahan konsumsi domestik dan rendahnya harga-harga komoditas, tetapi diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas Grup yang baru diakuisisi. Prospek pada tahun 2020 masih menantang yang disebabkan ketidakpastian kondisi makro eksternal, kompetisi di pasar mobil serta harga-harga komoditas yang lemah. Meskipun demikian, kami yakin bahwa Grup berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan momentum dari setiap perbaikan kondisi ekonomi.”

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

Kinerja Keuangan Konsolidasi

Untuk tahun yang berakhir 31 Desember

2019

Rp miliar

2018

Rp miliar

Perubahan

%

Pendapatan bersih

237.166

239.205

(1)

Laba bersih*

21.707

21.673

0

Rp

Rp

Laba bersih per saham

536

535

0

31 Desember 2019

Rp miliar

31 Desember 2018

Rp miliar

Perubahan

%

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk**

147.847

136.947

8

Rp

Rp

Nilai aset bersih per saham**

3.652

3.383

8

* Laba bersih adalah laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yaitu pemegang saham Astra International.

** Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan nilai aset bersih per saham didasarkan pada ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Kinerja keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2019 dan 2018 serta posisi keuangan per 31 Desember 2019 dan 2018 telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia dan telah diaudit sesuai dengan standar audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.

LAPORAN PRESIDEN DIREKTUR

Tinjauan Kinerja

Laba bersih Grup stabil, dengan penurunan kontribusi dari divisi agribisnis dan otomotif, yang mengurangi peningkatan kontribusi dari divisi jasa keuangan dan usaha tambang emas Grup.

Kinerja

Pendapatan bersih konsolidasian Grup pada tahun 2019 menurun 1% menjadi Rp237,2 triliun, yang terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari divisi otomotif dan agribisnis, yang mana penurunan tersebut lebih besar daripada peningkatan pendapatan dari divisi jasa keuangan serta infrastruktur dan logistik.

Laba bersih Grup mencapai Rp21,7 triliun, mencerminkan kinerja yang stabil jika dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp3.652 pada 31 Desember 2019, 8% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2018.

Utang bersih, di luar Grup anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp22,2 triliun pada 31 Desember 2019, dibandingkan dengan Rp13,0 triliun pada akhir tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh tambahan investasi Grup pada jalan tol dan Gojek serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp45,8 triliun pada 31 Desember 2019, dibandingkan dengan Rp47,7 triliun pada akhir tahun 2018.

Dividen final sebesar Rp157 per saham (2018: Rp154 per saham) akan diusulkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan pada bulan April 2020. Usulan dividen final tersebut dan dividen interim Rp57 per saham (2018: Rp60 per saham) yang telah dibagikan pada bulan Oktober 2019, akan menjadikan dividen total pada tahun 2019 sebesar Rp214 per saham (2018: Rp214 per saham).

Kegiatan Bisnis

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham PT Astra International Tbk dari tiap-tiap segmen bisnis adalah sebagai berikut:

Laba Bersih yang Diatribusikan Kepada

PT Astra International Tbk

Untuk tahun yang berakhir 31 Desember

2019

Rp miliar

2018

Rp miliar

Perubahan

%

Otomotif

8.396

8.518

(1)

Jasa Keuangan

5.864

4.815

22

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

6.711

6.630

1

Agribisnis

168

1.146

(85)

Infrastruktur dan Logistik

292

196

49

Teknologi Informasi

193

208

(7)

Properti

83

160

(48)

Laba Bersih Konsolidasian

21.707

21.673

0

Otomotif

Laba bersih dari divisi otomotif Grup mengalami penurunan sebesar 1% menjadi Rp8,4 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil dan meningkatnya biaya-biaya produksi, yang sebagian diimbangi oleh kenaikan volume penjualan sepeda motor. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • Penjualan mobil Astra turun 8% menjadi 536.000 unit. Penjualan mobil secara nasional turun 11% menjadi 1,03 juta unit pada tahun 2019 (sumber: Gaikindo). Pangsa pasar Astra meningkat dari 51% menjadi 52%. Pada tahun 2019 telah diluncurkan 15 model baru dan 11 model revamped.
  • Penjualan sepeda motor secara nasional meningkat 2% menjadi 6,5 juta unit pada tahun 2019 (sumber: Kementerian Perindustrian). Penjualan sepeda motor Astra Honda meningkat 3% menjadi 4,9 juta unit dengan pangsa pasar sebesar 76%, sedikit meningkat dibandingkan tahun 2018. Pada tahun 2019 ini telah diluncurkan 6 model baru dan 21 model revamped.
  • Bisnis komponen otomotif Grup, PT Astra Otoparts Tbk (AOP), yang 80% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 21% menjadi Rp740 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari segmen pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market) dan menurunnya biaya produksi.

Jasa Keuangan

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup meningkat 22% menjadi Rp5,9 triliun, terutama disebabkan oleh portofolio pembiayaan yang lebih besar dan perbaikan kredit bermasalah. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • Bisnis pembiayaan konsumen Grup mengalami peningkatan nilai pembiayaan sebesar 8% menjadi Rp87 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil Grup meningkat 29% menjadi Rp1,5 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan kerugian atas kredit bermasalah. Kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor Grup meningkat 11% menjadi Rp2,6 triliun, utamanya disebabkan oleh portofolio pembiayaan yang lebih besar.
  • Total pembiayaan yang disalurkan oleh unit usaha pembiayaan alat berat Grup turun sebesar 18% menjadi Rp4,3 triliun. Namun, kontribusi laba bersih dari segmen ini meningkat 14% menjadi Rp98 miliar, seiring dengan penurunan biaya provisi.
  • PT Bank Permata Tbk (Bank Permata), yang 44,6% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 66% menjadi Rp1,5 triliun, dikontribusikan oleh peningkatan pendapatan dan penurunan biaya provisi, yang disebabkan oleh peningkatan kualitas pinjaman dan pemulihan kredit bermasalah. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) dan bersih (net NPL) membaik menjadi masing-masing 2,8% dan 1,3%, dibandingkan dengan masing-masing 4,4% dan 1,7% pada akhir tahun 2018.
  • Pada bulan Desember 2019, Grup mengumumkan perjanjian untuk menjual 44, 6% saham di Bank Permata dengan menandatangani perjanjian pembelian saham bersyarat dengan Bangkok Bank Company Limited (Bangkok Bank). Penyelesaian transaksi tersebut bergantung pada terpenuhinya persyaratan-persyaratan tertentu, termasuk diperolehnya persetujuan pemegang saham Bangkok Bank dan persetujuan-persetujuan yang dipersyaratkan oleh peraturan yang berlaku di Indonesia dan Thailand, yang diharapkan dapat selesai sebelum akhir tahun 2020.
  • PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 4% menjadi Rp1,1 triliun, disebabkan peningkatan keuntungan hasil investasi.
  • Perusahaan patungan asuransi jiwa Grup, PT Astra Aviva Life (Astra Life) menambah lebih dari 1.203.000 nasabah baru asuransi jiwa perorangan dan 188.000 nasabah baru asuransi program kesejahteraan karyawan pada tahun 2019.

Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi

Laba bersih Grup dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi meningkat sebesar 1% menjadi Rp6,7 triliun, terutama dari kontribusi usaha tambang emas baru, yang diimbangi oleh penurunan penjualan alat berat dan kerugian pada bisnis kontraktor umum. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 2% menjadi Rp11,3 triliun.
  • Penjualan alat berat Komatsu turun sebesar 40% menjadi 2.926 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan juga menurun.
  • Bisnis kontraktor penambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat kenaikan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 1% menjadi 989 juta bank cubic metres dan peningkatan produksi batu bara sebesar 5% menjadi 131 juta ton.
  • Anak perusahaan UT di bidang pertambangan mencatatkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 21% menjadi 8,5 juta ton, termasuk penjualan 1,2 juta ton coking coal, tetapi terimbas oleh harga batu bara yang lebih rendah.
  • PT Agincourt Resources, anak perusahaan yang 95% sahamnya dimiliki UT, melaporkan penjualan emas sebesar 410.000 oz.
  • Perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan rugi bersih sebesar Rp1,1 triliun, dibandingkan dengan laba bersih Rp18 miliar pada tahun 2018. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan biaya proyek dan pendanaan atas beberapa kontrak yang sedang berjalan.

Agribisnis

Laba bersih dari divisi Agribisnis Grup turun 85% menjadi Rp168 miliar. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 85% menjadi Rp211 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan harga minyak kelapa sawit.
  • Harga rata-rata minyak kelapa sawit melemah sebesar 8% menjadi Rp6.689/kg.
  • Volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya meningkat sebesar 3% menjadi 2,3 juta ton.

Infrastruktur dan Logistik

Divisi infrastruktur dan logistik Grup mencatat laba bersih yang meningkat sebesar 49% menjadi Rp292 miliar. Hal ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari jalan-jalan tol yang telah beroperasi. Berikut adalah ikhtisarnya:

  • Astra mempunyai kepemilikan saham di 350km ruas jalan tol Grup yang telah beroperasi sepanjang jaringan jalan tol Trans-Jawa dan tol lingkar luar Jakarta.
  • Pendapatan jalan tol tercatat naik yang disebabkan oleh peningkatan volume lalu lintas sebesar 22% pada ruas jalan tol yang telah beroperasi, setelah tersambungnya seluruh jaringan jalan tol Trans-Jawa secara penuh pada bulan Desember 2018 dan tol Kunciran-Serpong pada bulan Desember 2019.
  • Pada bulan Mei 2019, PT Astra Tol Nusantara mengakuisisi 44,5% saham di PT Jasamarga Surabaya Mojokerto yang memegang konsesi jalan tol Surabaya-Mojokerto sepanjang 36km.
  • Pada bulan November 2019, PT Astra Tol Nusantara menyelesaikan akuisisi tambahan 10% saham PT Lintas Marga Sedaya, operator jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 117km, sehingga kepemilikan saham bertambah menjadi 55%.
  • Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) menurun sebesar 17% menjadi Rp250 miliar, yang disebabkan oleh menurunnya penjualan mobil bekas dan berkurangnya jumlah kendaraan yang disewakan.
  • Sebagai bagian kolaborasi antara Grup dan Gojek, sebuah perusahaan ventura bersama telah dibentuk untuk menyediakan dukungan manajemen kendaraan bagi GoCar, sistem transportasi kendaraan online yang dapat dipesan di Indonesia.

Teknologi Informasi

Laba bersih dari divisi teknologi informasi Grup menurun 7% menjadi Rp193 miliar.

PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 7% menjadi Rp251 miliar. Hal ini disebabkan oleh penurunan marjin laba operasional, meskipun pendapatan dari bisnis solusi dokumen dan bisnis solusi layanan perkantoran meningkat.

Properti

Divisi properti Grup melaporkan penurunan laba bersih 48% menjadi sebesar Rp83 miliar, terutama disebabkan oleh berkurangnya pengakuan laba dari pengembangan proyek Anandamaya Residences yang telah selesai pada tahun 2018.

Proyek-proyek Grup lainnya, termasuk diantaranya adalah Arumaya di Jakarta Selatan, Asya di Jakarta Timur (yang keduanya merupakan proyek residensial) serta 3 hektare lahan pengembangan residensial dan komersial yang berlokasi di pusat bisnis Jakarta.

Aksi Korporasi Lainnya

Pada tahun 2019, investasi senilai US$100 juta telah ditambahkan di Gojek, sehingga total investasi Astra menjadi US$250 juta.

Prospek Bisnis

Kinerja Grup selama tahun 2019 terimbas pelemahan konsumsi domestik dan rendahnya harga-harga komoditas, tetapi diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas Grup yang baru diakuisisi. Prospek pada tahun 2020 masih menantang yang disebabkan ketidakpastian kondisi makro eksternal, kompetisi di pasar mobil serta harga-harga komoditas yang lemah. Meskipun demikian, kami yakin bahwa Grup berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan momentum dari setiap perbaikan kondisi ekonomi.

Prijono Sugiarto

Presiden Direktur

27 Februari 2020

Untuk informasi lebih lanjut,mohon hubungi:

Pongki Pamungkas
Chief of Corporate Affairs

PT Astra International Tbk

Tel: + 62 – 21 – 508-43-888