Galeri Astra
Share

Galeri Astra

Galeri Astra

Ekspresi perjalanan dan pencapaian Astra bersama masyarakat Indonesia sejak awal berdiri, saat ini dan kedepan. Digambarkan melalui tangan-tangan seniman terbaik Indonesia dengan sumber inspirasi cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa.

Desain & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman: Dolorosa Sinaga - Mangu Putra - Heri Dono - Agus Suwage - Chusin Setiadikara

Founding Father

Sosok Pendiri Astra berdiri kokoh membangun sejarah. Ribuan bagian bersatu padu menjadi representasi manusia-manusia yang membentuk sebuah struktur yang indah. Semangat berdiri menjadi satu, membangun Astra melesat ke masa depan.

kolaborasi PT Budi Lim Arsitek & Somalaing Art Studio

Catur Dharma

Catur Dharma 1

“Gagasan”

Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Diwujudkan dalam gerak membawa gagasan dan gunungan.

Astra senantiasa berinovasi dalam pengembangan bidang usaha yang berkelanjutan. Hal ini diikuti dengan kontribusi sosial yang dilakukan secara konsisten. Astra selalu berusaha memberi gagasan yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.

Catur Dharma 2

“Memberi”

Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Diwujudkan dalam gerak memberi.

Pelanggan merupakan sumber inspirasi dan inovasi. Astra senantiasa memberikan komitmen penuh dalam penyediaan produk dan layanan berlandaskan kompetensi untuk membangun kepercayaan dari seluruh pelanggan.

Catur Dharma 3

“Sinergi”

Menghargai individu dan membina kerja sama. Diwujudkan dalam gerak sinergi.

Karyawan merupakan aset dalam sebuah perusahaan. Saling menghargai dan sinergi yang baik antar karyawan merupakan kunci dalam membentuk organisasi yang efektif dan efisien.

Catur Dharma 4

“Harmoni”

Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Diwujudkan dalam gerak harmoni.

Insan Astra senantiasa mengutamakan keunggulan dalam penerapan konsep, strategi, sistem dan proses untuk menciptakan harmoni dalam pertumbuhan Astra di masa mendatang.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek

Seniman : Dolorosa Sinaga

Corporate Social Responsibility

Astra terus melangkah maju dengan menjunjung tinggi nilai keseimbangan antara bisnis dan kontribusi sosial yang berkelanjutan. Karya ini menjadi cerminan kesungguhan dan ragam bukti nyata Astra, yang terus berusaha mewujudkan cita-cita untuk Sejahtera Bersama Bangsa.

kolaborasi PT Budi Lim Arsitek & Somalaing Art Studio


Seniman: Mangu Putra - Heri Dono - Chusin Setiadikara - Agus Suwage - Jumaldi Alfi - M. Yusuf - Agustinus Murtopo - Andre Tanama - Laksmi Shitaresmi - Dodi Irwandi - Peter Gentur - Theresia Sitompul - Beatrix Hendriani - Piere Mare Tramontane

Menjadi Kebanggaan Bangsa

Becoming The Pride of The Nation

Astra senantiasa beraspirasi untuk menjadi perusahaan yang berperan serta dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dengan senantiasa fokus pada keunggulan produk dan layanan karya anak bangsa, Insan Astra yang unggul, maupun kontribusi sosial yang sejalan dengan cita-cita Astra menjadi “Perusahaan Kebanggaan Bangsa”.

Garis cakrawala yang luas dan meteor sebagai penggambaran semangat dan visi Astra untuk terus maju dan melesat tanpa batas secara konsisten melampaui zaman. Perkembangan dan kemajuan ini menjadi euphoria bangsa Indonesia yang disimbolkan dengan kumpulan manusia yang memegang bendera. Dominasi awan melambangkan keberkahan bagi alam dan gunung sebagai karakter tanah air Indonesia.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman : Agus Suwage - Chusin Setiadikara - Heri Dono - Mangu Putra

Sejahtera Bersama Bangsa

Prosper With The Nation

Para pendiri Astra telah mewariskan prinsip tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam menjalankan bisnis. Lebih dalam, prinsip ini dijabarkan menjadi nilai-nilai Catur Dharma sebagai landasan bagi tiap karyawan Astra dalam menjalankan tugas dan kontribusinya sehari-hari. Selain itu, Astra juga menerapkan tata kelola yang baik secara konsisten dan teratur, didukung oleh fungsi-fungsi organisasi yang memantau efektivitas prosesnya setiap saat. Dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, diharapkan dapat membantu Astra tumbuh berkembang secara sehat dan berkelanjutan serta berkontribusi bagi masyarakat Indonesia. Subak sebagai latar lukisan yang mencerminkan sistem kemakmuran bersama sejalan dengan cita-cita Astra untuk ‘Sejahtera Bersama Bangsa’. Pohon besar sebagai perlambang semangat Astra untuk terus tumbuh menjadi pohon yang rindang tempat bernaung dan tempat berlindung semua orang yang ada di dalamnya. Gunung yang dipenuhi dengan simbol mencerminkan prinsip keseimbangan profit dan non profit dalam semangat kerja Insan Astra yang selalu berusaha mendatangkan manfaat bagi lingkungannya. Dengan berlandaskan Catur Dharma yang dilambangkan sebagai motor penggerak dari dinamika kemajuan dan perkembangan Astra.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman : Agus Suwage - Chusin Setiadikara - Heri Dono - Mangu Putra

SATU Indonesia

(Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia)

Langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif dalam memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia.Astra terus berinovasi dan merintis berbagai terobosan pada portofolio dan proses bisnis

serta organisasi, agar dapat menyesuaikan dengan realitas tantangan dan kondisi pasar yang ada. Astra juga terus berupaya menerapkan perpaduan yang berimbang pada aspek komersial bisnis dan sumbangsih non-bisnis melalui program tanggung jawab sosial yang berkelanjutan di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan serta Kewirausahaan. Prestasi serta capaian Astra dan kontribusi nyata Astra bagi masyarakat inilah yang ditampilkan sebagai SATU Indonesia. Archipelago sebagai latar lukisan merupakan perlambang kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Dengan eksplorasi, inovasi dan teknologi yang dihasilkan Insan Astra, mampu menciptakan produk unggulan yang tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Semangat Insan Astra ditampilkan melalui berbagai aktivitas dalam bentuk lukisan maupun ukiran kayu.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman : Agus Suwage - Chusin Setiadikara - Heri Dono - Mangu Putra

Flying Angel

Dream to the future

Angel atau bidadari dalam karya ini tidak berhubungan dengan isu agama tertentu, tetapi angel merupakan simbol inspirasi. Angel sebagai bentuk ide atau gagasan yang selalu bersifat futuristik kedepan, seperti halnya dengan perjalanan imajinasi, fantasi, intuisi dan persepsi manusia.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek

Seniman : Heri Dono

Agus Suwage

Lahir pada tahun 1959 di Purworejo, Jawa Tengah Saat ini tinggal dan berkarya di Yogyakarta

Agus Suwage adalah salah satu seniman yang sangat dihargai di Indonesia dengan latar belakang pendidikan desain grafis
di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Suwage mulai menarik perhatian masyarakat seni rupa Indonesia maupun internasional melalui karyanya yang tidak konvensional, ia menjelajahi media lain seperti instalasi atau bentuk tiga dimensi dan multimedia. Karya-karya Agus Suwage menjadi sangat berbeda sejak memperlihatkan potret diri seniman dalam berbagai pose dan penataan yang sering menyampaikan pesan kritis mengenai masalah sosio-politik. Karya-karyanya menunjukkan poin-poin konseptual yang kuat saat ia secara luas melakukan pendekatan appropriation. Dalam karya-karyanya, appropriation dilakukan melalui karya seniman lain ataupun miliknya sendiri yang secara terus-menerus dibuat ulang dan dikembangkan berlapis-lapis. Dengan cara itu, karya Agus Suwage memberi arti bagi seniman untuk secara kritis menyelidiki sejarah seni rupa modern dengan membenturkannya dengan beragam isu pada konteks kontemporer.

Chusin Setiadikara

Lahir pada tahun 1949 di Bandung, Jawa Barat Saat ini tinggal dan berkarya di Denpasar, Bali

Chusin Setiadikara adalah pelukis
yang dikenal dengan gaya realismenya yang kuat. Belajar pada pelukis Barli Sasmitawinata yang saat itu menaungi sanggar Studio Rangga Gempol semasa di Bandung pada tahun 1976-1980. Dengan pendekatan fotografis dan media campuran: arang, cat akrilik dan cat minyak di atas kanvas, menghasilkan suatu ciri khas karya Chusin dimana dalam beberapa lukisannya terasa seperti sebuah kolase, beberapa
objek terkadang dijadikan satu seperti membawa pesan terselubung akan arti yang ingin di sampaikan.

Dolorosa Sinaga

Lahir pada tahun 1952 di Sibolga, Sumatra Utara Saat ini tinggal dan berkarya di Jakarta

Dolorosa Sinaga merupakan seorang perupa dan aktivis HAM. Menyelesaikan Seni Rupa (seni patung) di Institut Kesenian Jakarta dan di St. Martin’s School of Art, London UK. Menerima penghargaan dari Ford Foundation untuk melaksanakan pameran seni patung pertama karya perupa perempuan Indonesia pada tahun 1980 di Galeri Mitra Budaya, Jakarta, menerima bantuan dana dari lembaga yang sama untuk program revitalisai dapur pengecoran perunggu pertama di Trowulan, Jawa Timur milik pak Sabar yang memproduksi replika patung figur peninggalan kerajaan Majapahit 1986. Karya-karya Dolorosa mengemukakan isu-isu spiritualitas, krisis, solidaritas, multikulturalisme, dan perjuangan hak-hak perempuan. Salah satu karyanya, Monumen Semangat 66, dipamerkan secara mencolok di H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Dolorosa telah menerima beberapa penghargaan dan pengakuan atas prestasinya di Indonesia termasuk diangkat sebagai anggota Rectorium Institut Kesenian Jakarta, ia adalah salah satu pendiri Koalisi Seni Indonesia.

Heri Dono

Lahir pada tahun 1960, di Jakarta
Saat ini tinggal dan berkarya di Yogyakarta

Heri Dono merupakan salah satu seniman kontemporer Indonesia dari generasi
akhir 1980an yang paling dikenal sebagai seniman kontemporer internasional. Sejak awal karirnya sampai sekarang, dia telah berkeliling dunia untuk mengikuti undangan pameran dan workshop di berbagai negara. Heri Dono dikenal melalui teknik instalasi yang berawal dari eksperimennya pada teater rakyat Jawa yang paling populer: wayang. Dalam pertunjukan wayang, sejumlah elemen artistik dan tambahan - seni visual, nyanyian, musik, alur cerita, mitologi falsafah kehidupan, kritik sosial, dan humor - bergabung menjadi satu kesatuan yang koheren untuk membuat pertunjukan yang kompleks

dari berbagai media. Apalagi semua ini ditambah dengan setting acara pertunjukan wayang yang memberi ruang interaksi sosial antar penonton. Instalasi Heri Dono memberikan contoh terbaik tentang upaya kreatif merevitalisasi praktik kesenian tradisional yang berakar kuat di Indonesia. Pada sebagian besar seni instalasi dan pertunjukannya, Heri Dono secara efektif memanfaatkan potensi performance dan interaksi sehingga karya-karya tersebut memiliki dialog yang intens dengan penonton.

Agung Mangu Putra

Lahir pada tahun 1963, di Selat, Sangeh, Bali Saat ini tinggal dan berkarya di Denpasar, Bali

Pada tahun 1990, ia menyelesaikan pendidikan Desain Komunikasi Visual dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Yogyakarta (ISI). Karya-karya Mangu Putra muncul dari keterlibatannya yang intens dengan dunia sebagai ekspresi kesadaran dari kreatifitasnya. Representasi dari fenomena alam dengan denyut kehidupan membentuk fokus utama dari seninya. Secara tehnik banyak terinspirasi oleh pengalaman di dunia desain grafis, foto-foto rusak atau foto monochromatic. Dalam beberapa tahun belakangan karyanya banyak mengambil tema sejarah disamping tema sosial terutama sejarah perjuangan rakyat Bali melawan kolonial karena dia bagian dari keluarga pejuang.

Karya

Galeri Astra

Ekspresi perjalanan dan pencapaian Astra bersama masyarakat Indonesia sejak awal berdiri, saat ini dan kedepan. Digambarkan melalui tangan-tangan seniman terbaik Indonesia dengan sumber inspirasi cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa.

Desain & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman: Dolorosa Sinaga - Mangu Putra - Heri Dono - Agus Suwage - Chusin Setiadikara

Founding Father

Sosok Pendiri Astra berdiri kokoh membangun sejarah. Ribuan bagian bersatu padu menjadi representasi manusia-manusia yang membentuk sebuah struktur yang indah. Semangat berdiri menjadi satu, membangun Astra melesat ke masa depan.

kolaborasi PT Budi Lim Arsitek & Somalaing Art Studio

Catur Dharma

Catur Dharma 1

“Gagasan”

Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Diwujudkan dalam gerak membawa gagasan dan gunungan.

Astra senantiasa berinovasi dalam pengembangan bidang usaha yang berkelanjutan. Hal ini diikuti dengan kontribusi sosial yang dilakukan secara konsisten. Astra selalu berusaha memberi gagasan yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.

Catur Dharma 2

“Memberi”

Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Diwujudkan dalam gerak memberi.

Pelanggan merupakan sumber inspirasi dan inovasi. Astra senantiasa memberikan komitmen penuh dalam penyediaan produk dan layanan berlandaskan kompetensi untuk membangun kepercayaan dari seluruh pelanggan.

Catur Dharma 3

“Sinergi”

Menghargai individu dan membina kerja sama. Diwujudkan dalam gerak sinergi.

Karyawan merupakan aset dalam sebuah perusahaan. Saling menghargai dan sinergi yang baik antar karyawan merupakan kunci dalam membentuk organisasi yang efektif dan efisien.

Catur Dharma 4

“Harmoni”

Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Diwujudkan dalam gerak harmoni.

Insan Astra senantiasa mengutamakan keunggulan dalam penerapan konsep, strategi, sistem dan proses untuk menciptakan harmoni dalam pertumbuhan Astra di masa mendatang.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek

Seniman : Dolorosa Sinaga

Corporate Social Responsibility

Astra terus melangkah maju dengan menjunjung tinggi nilai keseimbangan antara bisnis dan kontribusi sosial yang berkelanjutan. Karya ini menjadi cerminan kesungguhan dan ragam bukti nyata Astra, yang terus berusaha mewujudkan cita-cita untuk Sejahtera Bersama Bangsa.

kolaborasi PT Budi Lim Arsitek & Somalaing Art Studio


Seniman: Mangu Putra - Heri Dono - Chusin Setiadikara - Agus Suwage - Jumaldi Alfi - M. Yusuf - Agustinus Murtopo - Andre Tanama - Laksmi Shitaresmi - Dodi Irwandi - Peter Gentur - Theresia Sitompul - Beatrix Hendriani - Piere Mare Tramontane

Menjadi Kebanggaan Bangsa

Becoming The Pride of The Nation

Astra senantiasa beraspirasi untuk menjadi perusahaan yang berperan serta dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dengan senantiasa fokus pada keunggulan produk dan layanan karya anak bangsa, Insan Astra yang unggul, maupun kontribusi sosial yang sejalan dengan cita-cita Astra menjadi “Perusahaan Kebanggaan Bangsa”.

Garis cakrawala yang luas dan meteor sebagai penggambaran semangat dan visi Astra untuk terus maju dan melesat tanpa batas secara konsisten melampaui zaman. Perkembangan dan kemajuan ini menjadi euphoria bangsa Indonesia yang disimbolkan dengan kumpulan manusia yang memegang bendera. Dominasi awan melambangkan keberkahan bagi alam dan gunung sebagai karakter tanah air Indonesia.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman : Agus Suwage - Chusin Setiadikara - Heri Dono - Mangu Putra

Sejahtera Bersama Bangsa

Prosper With The Nation

Para pendiri Astra telah mewariskan prinsip tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam menjalankan bisnis. Lebih dalam, prinsip ini dijabarkan menjadi nilai-nilai Catur Dharma sebagai landasan bagi tiap karyawan Astra dalam menjalankan tugas dan kontribusinya sehari-hari. Selain itu, Astra juga menerapkan tata kelola yang baik secara konsisten dan teratur, didukung oleh fungsi-fungsi organisasi yang memantau efektivitas prosesnya setiap saat. Dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, diharapkan dapat membantu Astra tumbuh berkembang secara sehat dan berkelanjutan serta berkontribusi bagi masyarakat Indonesia. Subak sebagai latar lukisan yang mencerminkan sistem kemakmuran bersama sejalan dengan cita-cita Astra untuk ‘Sejahtera Bersama Bangsa’. Pohon besar sebagai perlambang semangat Astra untuk terus tumbuh menjadi pohon yang rindang tempat bernaung dan tempat berlindung semua orang yang ada di dalamnya. Gunung yang dipenuhi dengan simbol mencerminkan prinsip keseimbangan profit dan non profit dalam semangat kerja Insan Astra yang selalu berusaha mendatangkan manfaat bagi lingkungannya. Dengan berlandaskan Catur Dharma yang dilambangkan sebagai motor penggerak dari dinamika kemajuan dan perkembangan Astra.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman : Agus Suwage - Chusin Setiadikara - Heri Dono - Mangu Putra

SATU Indonesia

(Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia)

Langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif dalam memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia.Astra terus berinovasi dan merintis berbagai terobosan pada portofolio dan proses bisnis

serta organisasi, agar dapat menyesuaikan dengan realitas tantangan dan kondisi pasar yang ada. Astra juga terus berupaya menerapkan perpaduan yang berimbang pada aspek komersial bisnis dan sumbangsih non-bisnis melalui program tanggung jawab sosial yang berkelanjutan di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan serta Kewirausahaan. Prestasi serta capaian Astra dan kontribusi nyata Astra bagi masyarakat inilah yang ditampilkan sebagai SATU Indonesia. Archipelago sebagai latar lukisan merupakan perlambang kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Dengan eksplorasi, inovasi dan teknologi yang dihasilkan Insan Astra, mampu menciptakan produk unggulan yang tersebar ke seluruh pelosok Indonesia. Semangat Insan Astra ditampilkan melalui berbagai aktivitas dalam bentuk lukisan maupun ukiran kayu.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek


Seniman : Agus Suwage - Chusin Setiadikara - Heri Dono - Mangu Putra

Flying Angel

Dream to the future

Angel atau bidadari dalam karya ini tidak berhubungan dengan isu agama tertentu, tetapi angel merupakan simbol inspirasi. Angel sebagai bentuk ide atau gagasan yang selalu bersifat futuristik kedepan, seperti halnya dengan perjalanan imajinasi, fantasi, intuisi dan persepsi manusia.

Konsep & Kuratorial : PT Budi Lim Arsitek

Seniman : Heri Dono

Seniman

Agus Suwage

Lahir pada tahun 1959 di Purworejo, Jawa Tengah Saat ini tinggal dan berkarya di Yogyakarta

Agus Suwage adalah salah satu seniman yang sangat dihargai di Indonesia dengan latar belakang pendidikan desain grafis
di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Suwage mulai menarik perhatian masyarakat seni rupa Indonesia maupun internasional melalui karyanya yang tidak konvensional, ia menjelajahi media lain seperti instalasi atau bentuk tiga dimensi dan multimedia. Karya-karya Agus Suwage menjadi sangat berbeda sejak memperlihatkan potret diri seniman dalam berbagai pose dan penataan yang sering menyampaikan pesan kritis mengenai masalah sosio-politik. Karya-karyanya menunjukkan poin-poin konseptual yang kuat saat ia secara luas melakukan pendekatan appropriation. Dalam karya-karyanya, appropriation dilakukan melalui karya seniman lain ataupun miliknya sendiri yang secara terus-menerus dibuat ulang dan dikembangkan berlapis-lapis. Dengan cara itu, karya Agus Suwage memberi arti bagi seniman untuk secara kritis menyelidiki sejarah seni rupa modern dengan membenturkannya dengan beragam isu pada konteks kontemporer.

Chusin Setiadikara

Lahir pada tahun 1949 di Bandung, Jawa Barat Saat ini tinggal dan berkarya di Denpasar, Bali

Chusin Setiadikara adalah pelukis
yang dikenal dengan gaya realismenya yang kuat. Belajar pada pelukis Barli Sasmitawinata yang saat itu menaungi sanggar Studio Rangga Gempol semasa di Bandung pada tahun 1976-1980. Dengan pendekatan fotografis dan media campuran: arang, cat akrilik dan cat minyak di atas kanvas, menghasilkan suatu ciri khas karya Chusin dimana dalam beberapa lukisannya terasa seperti sebuah kolase, beberapa
objek terkadang dijadikan satu seperti membawa pesan terselubung akan arti yang ingin di sampaikan.

Dolorosa Sinaga

Lahir pada tahun 1952 di Sibolga, Sumatra Utara Saat ini tinggal dan berkarya di Jakarta

Dolorosa Sinaga merupakan seorang perupa dan aktivis HAM. Menyelesaikan Seni Rupa (seni patung) di Institut Kesenian Jakarta dan di St. Martin’s School of Art, London UK. Menerima penghargaan dari Ford Foundation untuk melaksanakan pameran seni patung pertama karya perupa perempuan Indonesia pada tahun 1980 di Galeri Mitra Budaya, Jakarta, menerima bantuan dana dari lembaga yang sama untuk program revitalisai dapur pengecoran perunggu pertama di Trowulan, Jawa Timur milik pak Sabar yang memproduksi replika patung figur peninggalan kerajaan Majapahit 1986. Karya-karya Dolorosa mengemukakan isu-isu spiritualitas, krisis, solidaritas, multikulturalisme, dan perjuangan hak-hak perempuan. Salah satu karyanya, Monumen Semangat 66, dipamerkan secara mencolok di H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Dolorosa telah menerima beberapa penghargaan dan pengakuan atas prestasinya di Indonesia termasuk diangkat sebagai anggota Rectorium Institut Kesenian Jakarta, ia adalah salah satu pendiri Koalisi Seni Indonesia.

Heri Dono

Lahir pada tahun 1960, di Jakarta
Saat ini tinggal dan berkarya di Yogyakarta

Heri Dono merupakan salah satu seniman kontemporer Indonesia dari generasi
akhir 1980an yang paling dikenal sebagai seniman kontemporer internasional. Sejak awal karirnya sampai sekarang, dia telah berkeliling dunia untuk mengikuti undangan pameran dan workshop di berbagai negara. Heri Dono dikenal melalui teknik instalasi yang berawal dari eksperimennya pada teater rakyat Jawa yang paling populer: wayang. Dalam pertunjukan wayang, sejumlah elemen artistik dan tambahan - seni visual, nyanyian, musik, alur cerita, mitologi falsafah kehidupan, kritik sosial, dan humor - bergabung menjadi satu kesatuan yang koheren untuk membuat pertunjukan yang kompleks

dari berbagai media. Apalagi semua ini ditambah dengan setting acara pertunjukan wayang yang memberi ruang interaksi sosial antar penonton. Instalasi Heri Dono memberikan contoh terbaik tentang upaya kreatif merevitalisasi praktik kesenian tradisional yang berakar kuat di Indonesia. Pada sebagian besar seni instalasi dan pertunjukannya, Heri Dono secara efektif memanfaatkan potensi performance dan interaksi sehingga karya-karya tersebut memiliki dialog yang intens dengan penonton.

Agung Mangu Putra

Lahir pada tahun 1963, di Selat, Sangeh, Bali Saat ini tinggal dan berkarya di Denpasar, Bali

Pada tahun 1990, ia menyelesaikan pendidikan Desain Komunikasi Visual dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Yogyakarta (ISI). Karya-karya Mangu Putra muncul dari keterlibatannya yang intens dengan dunia sebagai ekspresi kesadaran dari kreatifitasnya. Representasi dari fenomena alam dengan denyut kehidupan membentuk fokus utama dari seninya. Secara tehnik banyak terinspirasi oleh pengalaman di dunia desain grafis, foto-foto rusak atau foto monochromatic. Dalam beberapa tahun belakangan karyanya banyak mengambil tema sejarah disamping tema sosial terutama sejarah perjuangan rakyat Bali melawan kolonial karena dia bagian dari keluarga pejuang.